Fakta bersejarah foto pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan RI

Indonesia_declaration_of_independence_17_August_1945

Foto bersejarah pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Ir. Soekarno yang selama ini menghiasi berbagai buku sejarah ternyata mempunyai riwayat yang mengharukan. Dialah Frans Mendoer yang menjadi fotografer peristiwa itu. Bersama kakaknya, Alex Alexius Mendoer ia mengabadikan moment bersejarah itu. Namun sayang kamera Alex dirampas tentara Jepang dan ketika akan meminta negatif foto pembacaan proklamasi Frans mengaku kalau negatif foto itu sudah diambil Barisan Nasional, padahal ia menyembunyikan dengan menguburnya di tanah dekat pohon di belakang Kantor Harian Asia Raya, sehingga Frans dikenal satu-satunya fotografer proklamasi.
Proses pencetakan foto tersebut juga tidak mudah, Frans bersama kakaknya secara sembunyi-sembunyi memanjat pohon pada malam hari dan melompati pagar kantor Domei (sekarang kantor berita ANTARA) menghindari penjagaan tentara Jepang untuk mencetak foto di dalam gedung itu. Bisa dibayangkan jika mereka berdua tertangkap tentu akan dipenjara atau dihukum mati. Foto pembacaan Proklamasi itu pertama kali dimuat di harian Merdeka tanggal 20 Februari 1946, sedangkan negatif dari foto tersebut sampai sekarang tidak bisa ditemukan lagi.

Batu tulis peninggalan kerajaan Wengker

DSCN3480

Di dusun Ngrenak Desa Ketro Kecamatan Sawoo terdapat sebuah prasasti batu tulis yang diperkirakan  peninggalan Kerajaan wengker. Batu tersebut terletak di antara talud irigasi persawahan. Menurut warga setempat sudah ada beberapa arkeolog yang melakukan observasi.

Sebagaimana dijelaskan Moelyadi dalam bukunya “Ungkapan Sejarah, Kerajaan wengker dan Reyog Ponorogo” (1986), dijelaskan bahwa  Pasca penaklukan Airlangga terhadap Wengker dibawah pimpinan Kettu Wijaya pada tahun 1037 M, pusat pemerintahan kerajaan Wengker yang semula diperkirakan terletak di desa Daha Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun bergeser ke selatan tepatnya di wilayah desa Ketro Kecamatan Sawoo Ponorogo dengan rajanya  Sri garasakan atau Prabu Jaka Bagus. Sri garasakan diangkat oleh Airlangga sebagai pemegang kekuasaan Wengker karena jasanya dalam membantu usaha  Airlangga mengalahkan Kettu Wijaya.

Adapun tulisan yang terdapat pada prasasti batu tulis itu adalah Nir Wuk Tanpa Jalu yang merupakan chandra sengkala yang menunjukkan tahun 1000 saka atau 1078 M. Selain itu Moelyadi juga memaknai kalimat tersebut dari suku katanya,  Nir =Tidak ada, Wuk = tidak jadi, Tanpa = Tidak dengan, Jalu = Lelaki. Bila disambungkan berarti  Tidak ada tidak jadi tanpa lelaki. Kalimat tersebut menurut Moelyadi berhubungan erat dengan keberadaan Warok, yang mana menjadi tokoh yang sangat diagungkan, Warok sendiri berasal dari kata Wara yang artinya “Pria agung” atau “Pria yang diagungkan”. Sri Garasakan atau Prabu Jaka bagus sendiri adalah penganut Budha Tantrayana dan dikenal sebagai raja warok pertama.

Situs bersejarah Pager Ukir

??????????

Di desa Pager Ukir Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo, terdapat sebuah situs bersejarah yang diyakini merupakan tempat penggemblengan Airlangga oleh Mpu Barada setelah terjadinya ‘Pralaya” yaitu penyerangan koalisi kerajaan Sriwijaya, Wengker dan Wura wari terhadap kerajaan Medang yang terjadi 1016 M. Pada saat itu Medang dibawah kekuasaan Dharmawangsa sedangkan Airlangga adalah menantunya. Pada saat tragedi pralayala di Medang berlangsung pernikahan Airlangga dengan putri Prabu Dharmawangsa. Satu-satunya yang berhasil lolos dari serangan tersebut adalah Airlangga yang pada waktu itu berusia 16 tahun. Airlangga kemudian melarikan diri bersama Narotama dan mengalami masa penggemblengan lahir batin yang diyakini dilakukan di daerah Pager Ukir ini yang merupakan bekal bagi Airlangga membalaskan dendam atas peristiwa “Pralaya” sekaligus merebut kembali wilayah Medang yang menjadi haknya.

DSCN2771

Selain batu besar bertuliskan huruf Jawa kuno, juga terdapat tumpukan batu seperti pepunden berundak ke atas bukit. Di antara tumpukan batu tersebut juga terpahat tulisan dengan huruf Jawa kuno.DSCN2772

Warga setempat juga membenarkan bahwa tempat tersebut adalah bekas bekas penggemblengan Airlangga pasca terjadinya “Pralaya”. Menurut warga, bagian depan yang mana terdapat Batu bertuliskan huruf jawa kuno, dan juga batu persegi adalah pendopo, sedangkan tumpukan batu yang mirip dengan pepunden berundak adalah tempat penggemblengan yang dilakukan Mpu barada demikian pula kolam di seberang jalan.
Setelah mengamati lebih jauh Batu yang bertuliskan huruf jawa kuno ternyata di sisi batu tersebut terdapat pahatan berbentuk kepala hewan mirip Harimau atau Kuda. Diperkirakan pahatan-pahatan maupun tulisan tersebut di buat sendiri oleh Airlangga.

DSCN2778
Dilihat dari letaknya tempat tersebut sangat cocok sebagai tempat persembunyian dari kejaran pasukan Wengker dibawah pimpinan Kettu Wijaya , letaknya di pegunungan yang dipenuhi dengan pepohonan, apalagi terdapat perbukitan di sekeliling tempat itu.

Ajaran Sunan Drajat

Beberapa waktu yang lalu, kami berkunjung ke kompleks pemakaman Sunan Drajat. Salah satu bagian yang kami datangi adalah Museum Sunan Drajat, disitu terdapat peninggalan-peninggalan semasa beliau berdakwah dan jaman-jaman sesudah beliau. Kesan yang tersirat adalah seperti para Wali Songo lainnya adalah media dakwah yang juga menggunakan peralatan-peralatan tradisional. Demikian juga dengan ajaran beliau yang terkesan sederhana namun mempunyai nilai filosofis yang tinggi, yang mana pada intinya mengedepankan tentang kepedulian manusia terhadap sesamanya.

DSCN1863
MENEHONO TEKEN MARANG WONG KANG WUTO
(berilah tongkat kepada orang yang buta)
MENEHONO MANGAN MARANG WONG KANG LUWE
(berilah makanan kepada orang yang lapar)
MENEHONO BUSONO MARANG WONG KANG WUDO
(berilah pakaian kepada orang yang tdk punya pakaian)
MENEHONO NGIUP MARANG WONG KANG KUDANAN
(berilah tempat berteduh kepada orang yang kehujanan)

Sang Pujangga Ki Ronggowarsito

Ranggawarsita

“Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada”  (Ronggowarsito)

Raden Ngabehi Ronggowarsito lahir pada tahun 1802, ayahnya bernama R. Tumenggung Sastronegoro, kakeknya bernama  R.Ng. Yosodipuro I seorang pujangga kraton yang terkenal dijamannya. Nama kecilnya adalah Bagus Burham. R.Tumenggung Sastronegoro yang mengharapkan anaknya kelak kemudian hari menjadi orang yang berguna. Untuk mewujudkan keinginannya sang ayah, Bagus burham dibawa ke Pondok pesantren Tegalsari pimpinan Kyai Ageng Kasan Besari untuk mendapatkan ilmu lahir batin dan keagamaan.

Bagus Burham berangkat ke Tegalsari didampingi Ki Tanujoyo, pembantunya. Di tempat barunya Bagus Burhan justru suka bermalas-malas dan berbuat maksiat. Pekerjaannya tiap hari berjudi, sehingga ia lebih terkenal sebagai seorang penjudi dibandingkan sebagai santri.masjid tegalsari

Perbuatan Bagus Burham sering mendapat teguran dari Kyai Ageng Kasan Besari, maklum santri yang punya latar belakang kraton harusnya menjadi suri tauladan yang baik, bukan sebaliknya. Karena merasa bosan tinggal di pesantren, ia meninggalkan Tegalsari. Ki Tunojoyo juga mendampinginya.

Ia juga tidak mau pulang ke kraton, bahkan berpetualang sampai daerah Madiun. Suatu saat mereka kehabisan uang, Ki Tunoyojo berdagang barang loakan dan Bagus burham tetap pada kegemaran semula. Ayahnya bingung medapat laporan dari pesantren kalau Bagus Burham sudah tidak belajar di di sana lagi. Kemudian ayahnya mengutus Ki Josono mencari dan mengajak kembali ke Tegalsari.

Suatu saat Tegalsari dilanda musibah, banyak pencuri dan pertanian diserang hama. Kyai Ageng Kasan Besari mohon petunjuk Allah SWT dan mendapat petunjuk bahwa tegalsari akan seperti semula bila Bagus Burham kembali. Kemudian sang kyai mengutus Ki Kromoleyo untuk mencarinya. Bukan perkara sulit bagi Ki Kromoleyo mencari Bagus Burham karena dia hafal betul tempat-tempat yang disinggahi Bagus Burham. Akhirnya Ki Kromoleyo menemukan Bagus Burhan tetapi  tidak mau diajak kembali, tetapi atas bujukan Ki Josono utusan orang tuanya Bagus Burhan mau kembali ke Tegalsari.

Pasca kembalinya Bagus Burham ke Tegalsari, Kyai Ageng Kasan Besari tidak langsung menerapkan pengajaran seperti pada santri-santri yang lain. Beliau sadar Bagus Burham bukan keturunan orang biasa, dia masih keturunan raja di tanah Jawa yang suka memperlihatkan kejantanan seperti sabung ayam, tapi juga senang melakukan tapa brata. Kemudian beliau menyuruh Bagus Burham melakukan “Tapa Kungkum”. Genap 40 hari Bagus Burham telah terbuka hatinya dan sadar kalau usianya makin dewasa. Akhirnya ia tumbuh menjadi anak yang pandai.

Sang kyai tersenyum melihat perkembangan Bagus Burham, padahal terapi yg dilakukannya terhadap Bugus Burham karena cerita yang pernah didengarnya, bahwa dahulu ada anak bengal bernama Ken Arok. Karena ketekunan Loh Gawe Ken Arok bisa menjadi raja di Singosari, dan menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Beliau yakin Bagus Burham masih keturunan Ken Arok yang kelak menjadi orang yang luar biasa.

Setelah 4 tahun selesai belajar di Pesantren Tegalsari, Bagus Burham kembali ke Surakarta. Orang tuanya kemudian menyuruhnya belajar sastra arab dan kebatinan jawa di Kadilangu Demak. Ilmunya semakin banyak.

Pada usia 18 tahun ia ingin mengabdikan dirinya ke Kraton, tapi harus magang dulu di Kadipaten Anom. Jiwa pujangga dan senimannya begitu bergejolak, ia keluar dari pekerjaan magang tersebut dan mengembara ke luar jawa seperti Bali, Lombok dan Sulawesi bahkan ada yang mengatakan sampai India dan Srilangka.

Seusai mengembara Bagus Burham menikah, karena mertuanya diangkat menjadi Bupati Kediri ia mengikutinya. Di Kediri ia mempelajari karya sastra peninggalan Prabu Joyoboyo yang semakin memperluas wawasan keilmuannya. Usia 38 tahun ia mulai produktif dengan karya sastranya sendiri. Tahun 1844 pihak kraton mengangkatnya menjadi Kliwon carik dan disahkan menjadi pujangga kraton dengan gelar Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Karya-karya sang pujangga pun semakin banyak dan fenomenal. Ciri khas karyanya selalu ada “sandi asmo” (nama yang disembunyikan) juga ikatan bahasanya yag enak didengar dan dihafal karena selalu ada “Purwakanthi swara” (suara yang mengikuti suara yang lain) seperti …..baRONG angGO saWARgo meSI marTOya. Suku kata yang sengaja ditulis dengan huruf besar bila dibaca berbunyi Ronggowarsito.

Karya beliau yang terkenal antara lain : Pustoko Rojo Purwo, Kalatidha, Sabda tama, Sabda Jati,Wedha Yatmoko, Wedha Raga, dan masih banyak lagi. Dalam Serat SABDA JATI selain berisi ramalan juga diselipkan bait-bait terakhirnya, dia berpamitan akan meningalkan dunia fana ini “…..hamung kurang wolung ari kag kadalu, tamating pati patitis…” artinya “ Hanya kurang dari delapan hari lagi sudah terlihat datangnya maut”. Pada bagian lain “….. amarengi ri buda pon; tanggal kaping lima antarane luhur; selane tahun jimangkir Tohulu marhajeng janggur; Sengara winduning pati…”, Terjemahannya : “Pada hari rabu pon tanggal 5 sekitar waktu luhur; Bela sungkawa (Dulkangidah) tahun jimangkir Wuku Tolu dan winduna sengara. Dan benar beliau meninggal pada tanggal 5 Dulkangidah 1802 (jawa) atau 24 Desember 1873.

MENARA KUDUS, WUJUD SEBUAH AKULTURASI BUDAYA

menara kudus

Masjid Menara Kudus yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 H dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, Kudus, Jawa Tengah. Masjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Berdirinya Masjid ini tidak lepas dari metode dakwah Sunan Kudus yang sangat toleran sehingga ada perpaduan antara budaya Islam dengan Hindu yang pada saat itu masih menjadi agama mayoritas masyarakat .
Menara yang menjadi ciri khasnya memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara itu, 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang.
Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan perpaduan corak Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat batang saka guru yang menopang dua tumpuk atap tajug.
Pada bagian puncak atap tajug terdapat semacam mustaka (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada unsur arsitektur Jawa-Hindu.

sumber penulisan : wikipedia

Arca Ganesha Berusia 1.100 Tahun Ditemukan di Bantul

Berita dikutip dari vivanews 31 Juli 2013

216685_arca-ganesha-ditemukan-di-banguntapan--bantul--saat-gali-irigasi_663_382

Seorang pekerja bangunan di Dusun Ironayan, Desa Baturetno, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, menemukan patung arca Ganesha berukuran besar saat melakukan penggalian, Selasa, 30 Juli 2013 sore.

Penemuan arca tersebut langsung diinformasikan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY yang langsung menindak lanjuti dengan melakukan penelusuran jejak di situs bersejarah yang disebut-sebut peninggalan kerajaan Mataram Kuno.

Peneliti Balai Arkeologi DIY Bidang Etno Arkeologi, Hari Lelono, Rabu 31 Juli 2013, mengatakan, guna mengetahui apakah arca tersebut memang benar peninggalan kerajaan Mataram Kuno, masih harus menunggu hasil kajian arkeologi secara menyeluruh.

“Kepastian tentang arca Ganesha itu peninggalan kerajaan Mataram kuno harus ada kajian secara menyeluruh,” katanya.

Berdasarkan pernak-pernik yang melekat pada patung arca Ganesha setinggi 140 centimeter, serta lebar 90 centimeter itu, diperkirakan patung tersebut berusia sekitar seribu hingga seribu seratus tahun.

“Kemungkinan arca ini peninggalan kerajaan Mataram Hindu Kuno,” katanya.

Menurut Hari Lelono, untuk sementara ini para peneliti belum dapat memastikan usia patung tersebut. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menggali, serta mencari patung padanannya.

“Meski demikian langkah awal yang ditempuh para peneliti adalah mencermati berbagai komponen yang melekat di patung arca tersebut, mulai hiasan, mahkota, hingga bentuknya,” katanya lagi.

Peneliti lain Sugeng Riyanto mengatakan, penemuan arca Ganesha terbilang relatif besar dibandingkan penemuan sebelumnya. Kemungkinan seusia dengan Prambanan dan Candi Boko.

“Yang dulu-dulu ukuran patungnya hanya setinggi sekitar 60 centimeter hingga 70 centimeter,” kata Sugeng Riyanto.

Menurutnya,  tidak menutup kemungkinan para peneliti akan melakukan penulusuran terhadap jejak-jejak situs bersejarah di dusun setempat. Hanya saja, langkah itu menunggu hasil dari kajian yang akan dilakukan karena penemuan arca tersebut.

“Kita juga butuh menggali keterangan dari warga,” katanya.

Endah Budi Astuti, warga setempat mengatakan, patung arca Ganesha tersebut ditemukan sekitar pukul 14.30 WIB, Selasa kemarin. Patung itu ditemukan pekerja bangunan saat menggali saluran air.

Saat ditemukan, patung tersebut kondisinya tidak sempurna. Tangan kanannya patah, sedangkan bagian belakang badan patung juga terpisah.

“Patungnya nanti mau dibawa kemana saya juga hanya pasrah,” terang pemilik tanah saluran air tersebut.

Namun, warga setempat berkeinginan agar patung tersebut dilestarikan di tempat semula, seperti kala awal penemuan. Alasannya, itu dapat dijadikan sebagai bentuk warisan cagar budaya, sekaligus media pendidikan.

“Totalnya ada tiga situs di atas tanah saya. Di belakang rumah saya ada dua situs bersejarah. Kini masih utuh dan juga telah disertifikasi,” kata Endah

Leonardo Da Vinci dan misteri pada lukisan Monalisa

Leonardo da vinci (1452-1519) adalah seorang pelukis yang terkenal dari jaman Renaissance. Karyanya yang terkenal adalah “Perjamuan terakhir” (1495) dan “Monalisa” (1503). Lukisan “Monalisa” dengan senyum misteriusnya sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar mengenai model yang menjadi obyek lukisan Da Vinci. Ada yang berpendapat bahwa wajah wanita tersebut merupakan metamorfosa wajah Da Vinci sendiri.Monalisa

Sebagaimana dikutip dari Vivanews 11 agustus 2013, usaha dari para peneliti masih dilakukan untuk membongkar misteri tersebut

Peneliti yang terdiri dari geologis, Antonio Moretti dan ahli sejarah, Silvano Vinceti, pada Jumat 9 Agustus 2013 kemarin menggali satu makam yang dipercaya merupakan keluarga dari wanita yang ada di lukisan karya Leonardo da Vinci. 217546_tim-peneliti-membongkar-makam-keluarga-mona-lisa-_663_382

Tulang belulang yang ditemukan di dalamnya diyakini merupakan milik dua anak dan suami wanita yang tergambar dalam lukisan Mona Lisa tersebut.

Dikutip dari Laman Dailymail, Minggu 11 Agustus 2013, para peneliti menggali makam keluarga wanita yang diyakini bernama Lisa Gherardini Del Giocondo di sebuah komplek pemakaman di Basilika Santissima Annunziata. Nantinya ketiga jenis tengkorak yang ditemukan para peneliti itu, akan diambil DNA nya kemudian dicocokan dengan DNA tengkorak lain yang digali tahun lalu di sebuah biara di Florence.

Tengkorak yang digali di Florence diyakini milik Lisa Gherardini, perempuan yang diduga sebagai model lukisan Mona Lisa karya maestro Leonardo da Vinci. Para peneliti itu terlihat melubangi lantai batu untuk dapat masuk ke dalam makam yang berada di Basilika Santissima Annunziata.

Menurut Vinceti, tim menggali makam tersebut karena tertulis di batu nisannya, kuburan tersebut masih berasal dari keluarga Lisa. Tim peneliti, dikatakan Vinceti, akan melakukan 14 tes karbon demi mengetahui fakta apakah beragam kumpulan tengkorak di Basilika Santissima Annunziata berhubungan dengan tengkorak Lisa.

“14 tes karbon akan membantu kami menentukan mana dari tiga tengkorak itu yang berasal dari tahun 1500an. Setelah mengetahui usia tengkorak, baru kami dapat melakukan tes DNA akhir,” ungkap Vinceti.

Apabila tim peneliti mendapat hasil yang positif, maka Vinceti berniat untuk melakukan rekonstruksi terhadap wajah Lisa Gherardini berdasarkan struktur tulang yang ditemukan. Lalu dia akan membandingkan dengan model yang terdapat di lukisan Leonardo.

“Apabila kami sukses, maka kami dapat memecahkan tiga pertanyaan obsesi milik para sejarahwan dan pecinta seni di seluruh dunia,” kata  Vinceti.

Pertanyaan pertama, apakah Lisa benar merupakan model dalam lukisan yang diberi nama Mona Lisa. Pertanyaan kedua, apakah wanita di dalam lukisan Leondardo tersebut merupakan wanita lain seperti yang dikatakan kebanyakan orang. Sedangkan pertanyaan ketiga, apakah wanita di lukisan itu hanya imajinasi Leonardo saja.

Lisa Gherardini diketahui merupakan istri seorang pedagang sutera yang tinggal di seberang jalan dekat kediaman Leonardo. Usai suaminya meninggal, Lisa kemudian memutuskan menjadi seorang suster. Dia wafat di tahun 1542 di usia 63 tahun dan dikuburkan di dekat altar biara.

Leonardo Da Vinci juga disebut banyak memikirkan beberapa peralatan modern seperti helikopter dan tank, ratusan abad sebelum benda itu akhirnya diproduksi.

By farhanta Posted in budaya

Kresna, sang arsitek kemenangan Pandawa

Kresna sang raja Dwarawati dalam kisah pewayangan adalah titisan Dewa Wisnu yang bertugas melindungi Pandawa yang mana di dholimi pihak Kurawa dan memenangkannya dalam perang Baratayuda. Sebelum perang dimulai Kresna tampil sebagai duta Pandawa ke Astina dalam rangka menyelesaikan konflik perebutan kerajaan Astina. Misi yang diemban Kresna adalah agar tidak terjadi perang. Pandawa minta setengah wilayah Astina kepada kurawa, andaikata tidak diberikan Pandawa rela hanya menerima lima wilayah pedesaan yaitu Awisthala, Wrekashala, Waranawata, Makandi, dan Awasana. Bagaimanapun Pandawa tetap menempuh jalan damai. Namun Duryadana menolak mentah-mentah permintaan Kresna, bahkan dengan seluruh kekuatan Kurawa berusaha membinasakan Kresna. Dalam keadaan terdesak Kresna berubah menjadi raksasa dan akan menghancurkan Kurawa, namun Batara  Narada mencegahnya dan menjelaskan bahwa menurut Serat Jitabsara perang Baratayuda harus terjadi. Akhirnya Kresna mengurungkan niatnya tersebut.

Sadar perang Baratayuda akan terjadi, dengan kepintarannya Kresna berusaha sedkit demi sedikit melemahkan posisi Kurawa antara lain dengan meminta Karna memihak Pandawa, namun merasa sadar bahwa dirinya berhutang budi kepada Kurawa dan lebih mementingkan Astina sekalipun Kurawa dipihak yang salah, Karna menolak permintaan Kresna tersebut. Demikian pula terhadap Baladewa kakaknya sendiri yang sebenarnya bersikap netral. Sadar sang kakak akan memihak Kurawa Kresna memohon Baladewa untuk bertapa di Grojogan sewu yang dijaga Setiyaki. Baladewa sendiri adalah satria yang senang melakukan tapa brata, dia tidak bisa menyaksikan keseluruhan berlangsungnya perang Baratayuda dan baru muncul disaat diakhir episode perang tersebut ketika Bima bertarung melawan Duryudana.

Dalam perang Baratayuda, Kresna memihak Pandawa. Ia dipilih Arjuna sebagai penasehat yang mana Kresna tidak diperbolehkan mengeluarkan senjata untuk berperang langsung dengan pihak Kurawa, sementara pasukannya yang berjumlah besar dipilih Duryudana menjadi bagian dari pasukan Kurawa. Pilihan yang dijatuhkan Duryudana membuat Sengkuni marah kepada Duryudana baginya apalah arti pasukan yang besar jika tidak melibatkan pengatur strategi yang ulung sekaliber Kresna. Kresna pada waktu perang memposisikan diri sebagai kusir kereta Arjuna. Kresna juga memantapkan hari Arjuna yang masih ragu-ragu melihat orang-orang yang dihormatinya seperti Bisma dan Durna berada dipihak Kurawa. Arjuna mendapatkan lawan yang sepadan yaitu Karna yang tak lain kakak tertuanya sendiri. Kereta Karna dikemudikan mertuanya sendiri yaitu Prabu Salya. Prabu Salya sebenarnya tidak ingin Baratayuda terjadi sehingga dalam mengemudikan kereta Karna ia setengah hati sampai pada suatu ketika roda kereta Karna terjerembab dalam tanah. Mengetahui hal tersebut Kresna menyuruh Arjuna segera melepaskan senjata Pasopati. Pada awalnya Arjuna tidak mau karena hal tersebut bukan tindakan ksatria. Namun Kresna menjelaskan bahwa Karna salah satu orang yang membunuh Abimanyu, putra Arjuna, maka Arjuna segera melepaskan anak panah Pasopati mengenai leher Karna yang mengakibatkan kematian Karna. Arjuna sebenarnya menyesali tindakannya tersebut. Prabu Salya sendiri tewas ditangan Puntadewa. Ketika Prabu Salya maju ke medan perang, Pandawa kewalahan menghadapi Candrabirawa ilmu Prabu Salya berupa kemampuan memanggil raksasa yang apabila terluka oleh musuhnya jumlah bertambah banyak. Kresna yang tahu bahwa ilmu itu hanya bisa dihadapi orang suci hati dan sabar seperti Puntadewa maka ia segera menyuruh Puntadewa menghadapinya. Puntadewa sendiri sebenarnya tidak mau karena dalam Baratayuda ia tidak akan turun gelanggang. Pada saat itu arwah Resi Bagaspati masuk ke tubuh Puntadewa bermaksud mengambil Candrabirawa miliknya. Puntadewa yang telah dirasuki kemudian melempar Jimat Kalimasada dan mengenai dada Prabu Salya. Prabu Salya akhirnya gugur.

Tindakan Kresna meskipun terkesan kejam namun demi kemenangan Pandawa, ia lakukan yaitu ketika melihat Antasena anak Bima. Antasena mempunyai kesaktian yang luar biasa, ia bisa membunuh seseorang dengan cara menjilat bekas telapak kakinya di tanah. Tentunya Kresna melihat apabila hal tersebut dilakukan Antasena dalam mengalahkan lawannya akan berbahaya, bisa jadi yang dijilatnya tersebut bekas telapak kaki pihak Pandawa sendiri. Kresna kemudian menyuruh Antasena menjilat sebuah bekas telapak kaki. Namun Antasena tidak sadar kalau yang dijilatnya bekas telapak kakinya sendiri. Akhirnya Antasena mati dengan cara tersebut.

Duryudana  juga terpedaya kepintaran Kresna. Hampir selesainya perang Dewi Gandari, ibu para Kurawa sedih mendengar hampir seluruh anaknya tewas dan hanya tersisa Duryudana. Dewi Gandari yang selama menjadi ibu para Kurawa selalu menutup matanya, bisa memberikan kekuatan yang dahsyat kepada Duryudana. Kekuatan tersebut berasal dari kedua matanya yang ia tutup. Jika kekuatan tersebut dilimpahkan kepada tubuh Duryudana, maka ia akan kebal terhadap berbagai macam serangan. Ia menyuruh Duryudana agar mandi dan menghadapnya dalam keadaan telanjang. Ketika Duryudana ingin menghadap ibunya, ia berpapasan dengan Kresna . Kresna mencela dan mengejek Duryodana yang mau datang ke hadapan ibunya sendiri dalam keadaan telanjang. Karena malu, Duryudana menutupi bagian bawah perutnya, termasuk bagian pahanya. Begitu membuka matanya, Dewi Gandari hanya bisa memberikan kekuatannya ke bagian tubuh Duryudana yang tidak tertutup.

Dipenghujung perang Baratayuda terjadilah pertarungan bersenjatakan gada yang hebat antara Bima dan Duryudana. Pertarungan berlangsung imbang tidak ada yang kelihatan kalah sedikitpun. Melihat hal tersebut Kresna yang tahu titik lemah Duryudana segera memberi tahu kepada Arjuna tentang hal tersebut. Kemudian Arjuna mengisyaratkan agar Bima memukul bagian paha sebelah kiri. Mendapat isyarat tersebut Bima segera memukul paha sebelah kiri Duryudana. Duryudana langsung terkapar tak berdaya dan menjadi bulan-bulanan Bima. Pada saat itu Baladewa yang selama Baratayuda disembunyikan Kresna muncul dan marah terhadap Bima yang dianggap tidak tahu aturan bertarung dengan gada bahkan berniat menghabisi Bima dengan Nenggala senjatanya. Melihat hal itu Kresna bertindak meredakan amarah kakaknya dan menjelaskan meskipun Bima dianggap melanggar aturan main namun supaya diingat bagaimana perlakuan Kurawa terhadap Pandawa yang mengakibatkan kesengsaraan terhadap Pandawa dan juga hak singgasana Hastinapura yang tidak diberikan meskipun satu jengkal tanahpun. Akhirnya kemarahan Baladewa mereda dan dia pulang. Sementara itu Duryudana yang sedang sekarat bersumpah serapah terhadap Kresna yang dianggap biang kekalahan Kurawa. Kresna menjawab bahwa itu semua akibat ulah Kurawa sendiri. Akhirnya Duryudana tewas dan berakhirlah perang Baratayuda.