Di Ponorogo tepatnya di Dusun Medang desa Sampung Kecamatan Sampung ditemukan batu dan patung yang diduga peninggalan kerajaan Medang di bawah pimpinan Mpu Sindok. Lokasi pertama di halaman rumah seorang warga
Lokasi kedua di belakang rumah yang tidak jauh dari lokasi pertama
Lokasi ketiga ditengah persawahan yg juga tidak jauh dari lokasi kedua, warga setempat menyebutnya “lumpang”, sebenarnya ada 2 batu yang satu disebut “alu” tapi hilang beberapa saat yang lalu.
dari ketiga peninggalan tersebut yang letaknya tidak terlalu berjauhan, diduga dulu dipakai sebagai sarana upacara meminta kemakmuran dari sang pencipta. Kondisi ketiganya kurang terawat.
Salah satu alasan mengapa dikatakan peninggalan kerajaan Medang, dusun tersebut juga bernama Medang.
Informasi sementara ketiga benda bersejarah tersebut adalah peninggalan Kerajaan Medang dibawah pimpinan Mpu Sindok, tetapi dari referensi yang ada menyebutkan bahwa, Dharmawangsa sebagai penerus tahta Kerajaan Medang tahun 947 M, berkedudukan di sekitar wilayah Maospati Magetan, yang tidak jauh dari ditemukannya tiga peninggalan bersejarah tersebut.
Manusia mungkin berada dalam keadaan gembira, dan manusia lainnya berusaha untuk menyadarkan. Itu memang usaha yang baik. Namun keadaan ini mungkin buruk baginya, dan kesadaran mungkin baik baginya. Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain
DUNIA PENUH BEBAN
Dari langit setiap saat wahyu turun ke dalam kalbumu,
“Bagaikan sampah berapa lamakah usia hidupmu di atas bumi? Naiklah!”
Sesiapa yang beban jiwanya berat, pada akhirnya akan menjadi sampah.
Apabila sampah memenuhi tong, bersihkan!
Janganlah lumpur itu dibuat kewruh setiap kali,
Agar air kolammu jernih dan sampah mudah dibuang dan dukamu sembuh.
Demikian roh, bagaikan obor, asapnya lebih tebal dibanding cahayanya.
Apabila gumpalan asap lenyap, cahaya dalam rumah tak akan dipermainkan lagi.
Kau sentiasa bercermin ke dalam air keruh,
Kerana itu bukan bulan ataupun matahari kau lihat
Apabila kegelapan menutup langit, matahari dan bulan tak nampak.
Angin utara bertiup, udara segar.
Untuk membawa udara segar angin sepoi bertiup pada waktu subuh.
Angin roh bertiup membuat segar dada yang sesak disebabkan derita.
Nafas ringan terhela dan jiwa rasa hampa.
Di bumi roh ialah pengembara asing, negeri tanpa ruang itulah yang ia rindukan,
Mengapa nafsu amarah sentiasa gelisah?
Roh suci, berapa lamakah kau akan mengembara di bumi?
Kau elang raja, terbanglah kembali kepada siul Baginda!