Ramalan Jayabaya dan Kejayaaan Kerajaan Kediri

KERAJAAN KEDIRI

 Prabu Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua bagian yaitu Daha atau Kediri dan Jenggala atau Panjalu, dengan maksud agar terjalin kerukunan antara keturunannya. Garis perbatasan dibuat secara gaib  oleh  Mpu Barada. Namun beberapa tahun setelah Airlangga meninggal, peperangan pun pecah. Padahal perbatasan tersebut dibuat seadil-adilnya. Dikisahkan dalam membuat perbatasan Mpu Barada terbang ke angkasa dengan membawa kendi berisi air suci. Ia terbang dari Gunung Kelud sampai laut India yang tercipta menjadi sungai. Inilah batas kedua Negara. Di beberapa daerah diberikan tanda batas berupa dinding batu sebagai peringatan kedua penguasa agar tidak saling melanggar. Kedua kerajaan terbagi atas Kediri atau Daha dan Jenggala atau Panjalu.

Dari kedua kerajaan tersebut yang menjadi besar adalah Kediri, dengan rajanya yang terkenal Prabu Jayabaya yang memerintah tahun 1135-1157 M ibu kotanya berada di Mamenang. Ditangan Jayabaya Kediri tidak hanya makmur dalam sektor ekonomi dan mempunyai angkatan bersenjata, tetapi juga fokus terhadap bidang kebudayaan khususnya sastra. Pada waktu itu Kediri mempunyai pujangga-pujangga yang ahli dibidang sastra yaitu Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Keduanya diperintahkan prabu Jayabaya mengadaptasi Kitab Baratayuda yang diambil dari kisah Mahabarata yang berbahasa asli India menjadi bahasa lokal yang sesuai dengan kehidupan Kerajaan Kediri dalam bentuk kakawin. Kedua empu tersebut berhasil melukiskan kejadian dalam kitab tersebut seolah-olah kisah tersebut terjadi di pulau Jawa. Diantaranya berhasil menggambarkan peperangan besar antara putra-putra prabu Airlangga seperti perang Baratayuda. Karya itu berjudul Sanga Kuda Sudda Candrama (tahun 1079 saka atau 1157 M). Kisah Baratayuda juga sempat diadaptasi lagi kedalam bahasa Jawa jaman kerajaan Surakarta berbentuk tembang oleh pujangga keraton Surakarta Ki Yosodipuro I (kakek Ki Ronggowarsito). Sanga Kuda Sudda Candrama berarti Beliau yang berkuda putih mempunyai hati bersih seperti bulan. Yang dimaksud adalah prabu Jayabaya sendiri.

Menurut Kitab Negarakertagama, kakawin Baratayuda adalah pengungkapan sejarah yang menceritakan perang antara Kediri dengan jenggala, bahkan merupakan apologi atau pembelaan prabu Jayabaya terhadap perbuatannya yang membunuh prabu Hemabupati yang masih terhitung saudara tuanya. Dalam kakawin Baratayuda ada kalimat : Yekan tashtta manah bhatara (Girinata) muwuwun, haji Jayabaya haywa sangcaya, tatan krodha ketaku yak para suksunga wara karannata digjaya yang artinya kurang lebih : maka dari sebab itu Sang Siwa sangat gembira hatinya dan bersabda “wahak datang raja jayabaya , janganlah takut, saya tidak datang karena marah, melainkan datang untuk member anugrah supaya kamu menjadi pemenang di sepuluh langit”. Karya sastra ini merupakan introspeksi prabu Jayabaya karena merasa berdosa telah membunuh saudara sendiri lebih-lebih kalau ingat wasiat prabu Airlangga dan Mpu Barada. Dalam kakawin Baratayuda prabu Jayabaya mengidentikkan diri sebagai Arjuna sang titisan Wisnu (dalam kisah pewayangan titisan Wisnu terbagi menjadi dua dengan Krisna). Dilukiskan Arjuna (Jayabaya) waktu akan menghancurkan musuh-musuhnya masih terlihat ragu dan tidak sampai hati. Setelah mendapat nasehat dari Krisna bahwa tindakan berperang tersebut bertujuan menghancurkan angkara murka, Arjuna (Jayabaya) tidak ragu-ragu lagi bertindak.

Bahkan prabu Jayabaya juga mengidentikkan diri dengan titisan Wisnu ke sepuluh yaitu Kalkiwathara yang digambarkan dengan seorang satria yang mengendarai kuda putih dengan pedang menyala di tangannya guna menumpas angkara murka. Hal ini terlihat dalam kalimat yang menyebutkan “Nahan don mpu Sedah makirya, caka kabari sanga kuda cudda candrama, sang sakshat harimurti yang ketiga nitya mekapalana kecaning musuh sang iwir lek pratipada cukia pinalakwan ahuripa wijilnireng ripu” yang artinya kurang lebih “Demikianlah yang menjadi tujuan Mpu sedah ketika ia berjasa dalam membuat kisah sejarah Caka Sanga Kuda Sudda Candrama. Sang raja mempunyai wajah bagaikan dewa matahari di musim kemarau serta pelana kudanya berupa rambut musuh dan memiliki wajah seperti bulan putih, ia senantiasa diminta menyelamatkan hidup anak dan keturunan musuhnya. Selain Serat Baratayuda pada masa juga lahir Serat Arjuna Wijaya dan Serat Sutasoma.

Karya-karya sastra itu sering dibacakan keseluruh Negara untuk didengarkan selurah rakyat oleh seorang ahli syair kadang menggunakan media wayang beber. Hubungan luar negeri kerajaan Kediri sangat maju, bahkan catatan Tiong Hoa memberitakan bahwa pada waktu itu di pulau Jawa ada sebuah kerajaan besar yang bernama Kediri dengan rajanya bernama Sri Jayabaya. Dikisahkan bahwa penduduk kerajaan Kediri mempunyai adat rambutnya dibiarkan terurai, memakai kain sampai bawah lutut, bertempat tinggal di rumah yang cukup bagus yang lantainya terbuat dari batu ubin warna warni. Sedangkan sang raja rambutnya tidak terurai tapi disanggul memakai baju terbuat dari sutra. Kakinya memakai terompah (sepatu) yang terbuat dari kulit binatang. Di kerajaan ini juga terdapat gedung tempat bertemunya para saudagar dan juga tempat pedagang asing dan lokal bertemu. Hasil bumi dari Kediri seperti yang tercatat musafir dari negeri Cina antara lain padi, kacang-kacangan, tebu, pisang, papaya, kulit manis kayu cendana, lada dan lain-lain. Hewan ternak yang dipelihara antara lain ayam, itik, lembu, ikan dan penyu. Disamping itu juga menghasilkan emas, perak, gading, cula badak, kapas dan sutra. Alat tukar atau mata uang waktu itu terdiri dari uang dan perak dan uang kuningan, sayang tidak disebutkan nilai tukar dari uang tersebut.

Perdagangan Kediri yang maju pesat menciptakan kemakmuran terutama kalangan bangsawan, sehingga mereka dapat menyisihkan waktunya untuk memikirkan bidang kebudayaan. Alat musik yang ada waktu itu berupa seruling, gendang dan gambang. Tiap 5 bulan sekali diadakan pesta perahu. Pedagang-pedagang asing sering datang pada pesta itu. Selain berwisata mereka juga mengadakan transaksi perdagangan. Juga banyak didirikan banyak candi. Para punggawa kerajaan setiap hari menghadap Prabu Jayabaya yang dianggap titisan Wisnu dengan menyembah tiga kali kalau hendak mundur dari hadapannya. Setiap melakukan perjalanan sang raja mengendarai gajah atau kereta kerajaan dikawal kurang lebih 500 sampai 700 orang prajurit. Di setiap jalan yang dilalui, penduduk keluar rumah dan duduk berjongkok di sepanjang jalan. Hukum sangat ditegakkan, tidak ada hukuman penjara tapi hukuman denda sesuai kesalahannya. Bagi pencuri dan penyamun dikenakan hukuman mati.

Selain raja yang bijak di bidang pemerintahan dan perhatian yang luar biasa terhadap sastra dan kebudayaan, Prabu Jayabaya juga dikenal seorang cendekiawan yang berilmu tinggi dan dianggap manusia yang mengetahui sesuatu yang belum terjadi.

RAMALAN JAYABAYA

Ramalan Jayabaya yang mana sangat terkenal sampai sekarang. Ramalan sang raja berupa tembang ataupun kata-kata singkat. Begitu termasyhurnya ramalan tentang keadaan masa depan atau biasa disebut “Jangka Jayabaya” seperti  Serat Pranitiradya dan Ramalan Jayabaya Musarar. Tapi benarkah karya-karya tersebut asli buatan prabu Jayabaya ?

Sebagaimana dijelaskan Andjar Any dalam buku “Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita dan Sabdo Palon”, karya sastra yang mencantumkan “Jayabaya” bersumber dari :

  •  Kitab Asrar karangan karya Sunan Giri Perapen dibuat tahun 1540 saka atau 1618 M
  • Kitab Jayabaya Kidung karangan Panembahan Wijil di Kadilangu, seorang pujangga keraton Kartasura yang terakhir, dibuat sekitar tahun antara 1741-1743 M.
  • Kitab Musarar Kidung gubahan Kapujanggan Surakarta, tidak diketahui siapa pengarangnya dibuat tahun 1749 M.
  • Kitab Jangka Ratu Galuh Kidung gubahan Panembahan di Madura, tidak diketahui tahun pembuatannya
  • Kitab Lambang Negara Kidung gubahan Kapunjanggan Surakarta dibuat tahun 1796 M
  • Kitab Jayabaya Kidung gubahan Kapunjanggan di Surakarta dibuat tahun 1706 M
  • Kitab Musarar, Jayabaya dan Lambang Praja berbentuk prosa singkat padat, karya Kapunjanggan Surakarta dibuat tahun 1812 M
  • Kitab Musarar dan Jayabaya, sebuah prosa yang popular karya Kapunjanggan Surakarta, dibuat tahun 1815 M.

Berikut sedikit tentang karya-karya yang dianggap “Jangka Jayabaya” :

Serat Pranitiradya

 Yang tertulis dalam Serat Pranitiradya sebenarnya bukanlah ramalan tetapi keterangan raja-raja yang bertahta disesuaikan dengan pembagian jaman didalam ramalan Jayabaya. Karya ini dimasukkan dalam “Jangka Jayabaya” padalah bukanlah merupakan ramalan tetapi lebih tepat disebut catatan. Pembagian fase dari karya ini antara lain jaman Kala Buda, jaman Kala Brawa, jaman Kala Tirta, jaman Kala Rwabara, jaman Kala Rwabawa, jaman Kala Purwa, jaman Kala Brata, jaman Kala Dwara, jaman Kala Dwapara, jaman Kala Praniti, jaman Teteka, jaman Wisesa, jaman Wisawa, jaman Kala Jangga, jaman Kala Sakti, jaman Kala Jaya, jaman Kala Bendu. Tiap masa tercatat Kerajaan, rajanya dan tahunnya. Seperti “jaman Kala Buda “terdiri dari Kerajaan Medang Kemulan dengan raja Sri Maha Raja Dewa Budha tahun 170 dan diakhiri Kerajaan Medang Sewanda Sri Maharaja Balya tahun 194. Masa Prabu Jayabaya sendiri masuk fase “jaman Kala Purwa”. Dan yang terakhir yaitu “jaman Kala Bendu” dimasa Kerajaan Surakarta dimulai tahun 1705.

Jayabaya Musarar

Berikut beberapa bait dalam Jayabaya Musarar

Kitab Musarar inganggit

Duk sang prabu Jayabaya

Ing Kediri kedhatone

Ratu agagah prakosa

Tan ana kang malanga

Parang muka samya telak

Pan sami ajrih sedaya

(bait 1)

Bait di atas memaparkan kebesaran prabu Jayabaya penguasa kerajaan Kediri

Maksihe bapa anenggih

Langkung suka ingkang rama

Sang prabu jayabayane

Duk samana cinarita

Pan arsa katamiyan

Raja pandita saking Rum

Nama Sultan Maolana

(bait 4)

Bait di atas memaparkan prabu Jayabaya menghuni tanah Jawa atas perintah Sultan Rum

Ngali Samsujen kang name

Sapraptane sinambrama

Kalawan pangabektine

Kalangkung sinuba suba

Rehning tamiyan raja

Lan seje jinis puniku

Wenang lamun ngurmatama

(bait 5)

Bait di atas memaparkan pertemuan prabu Jayabaya dengan Syekh Ali Syamsu Zein

Pembahasan

Serat Pranitiradya

Pranitiradya berarti meneliti raja-raja. Inipun terbatas pada raja-raja yang sudah ada, biasanya masa terakhir yang ditulis pada waktu penulis masih hidup. Sebagai contoh apabila ditulis Ronggowarsito maka masa terakhir yang ditulis adalah masa pemerintahan Pakubuwana IX.

Jayabaya Musarar

Karya ini adalah babad atau cerita yang tidak berdasarkan sejarah yang mempunyai bukti-bukti seperti prasasti. Karya ini penuh dengan kata-kata simbolik, Sultan Rum menurut Andjar Any diartikan sebagai kehendak Tuhan atau kehendak alam. Demikian juga kisah pertemuan prabu Jayabaya dengan Syekh Ali Syamsu Zen adalah cerita fiktif yang tidak menyebutkan tahun-tahun kejadiannya dan tidak punya bukti-bukti sejarah.

Dari karya-karya “Jangka Jayabaya” di atas diambil kesimpulan :

  • Dari segi bahasanya karya-karya yang tergabung dalam “Jangka Jayabaya” hampir semuanya mempergunakan bahasa Jawa yang mudah dipahami dan sangat berbeda dengan bahasa semasa Kerajaan Kediri, jadi bisa diambil kesimpulan bukanlah karya prabu Jayabaya atau diciptakan setelah masa prabu Jayabaya.
  • Kebesaran nama prabu Jayabaya sebagai raja yang bijaksana, berilmu tinggi serta sangat memperhatikan sastra dan kebudayaan menjadikan inspirasi bagi pujangga atau ahli sastra memberikan nama pada karyanya dengan mencantumkan “Jayabaya”.
  • Ramalan sangat identik dengan simbol-simbol bahasa, penerjemahannya tidak bisa langsung, dengan kata lain memerlukan penafsiran tinggi dengan memahami apa yang tersirat dalam ramalan itu bukan hanya yang tersurat, sebab sastrawan jawa klasik sangat pandai menyembunyikan kata yang mereka tulis.
  • Bagaimanapun penafsiran terhadap sebuah ramalan sangat bersifat subyektif, tiap orang akan menerjemahkan sesuai alur pikirannya masing-masing.
  • Ramalan-ramalan seperti “Jangka Jayabaya” adalah hasil rasa, cipta dan karsa leluhur-leluhur kita yang merupakan kearifan lokal yang punya tujuan yang luhur bagi kelangsungan generasi-generasi berikutnya. Sudah selayaknya bagi kita melestarikan dan mengembangkannya paling tidak mengetahuinya. Dijaman ini karya-karya seperti itu sangat sulit didapat tergerus arus globalisasi, padahal kemajuan suatu bangsa salah satunya ditentukan pemahaman nilai asli dari akar budayanya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s