Hasan Al Banna, tokoh pergerakan Islam pendukung kemerdekaan Indonesia

Hasan Al Banna dilahirkan pada tanggal 14 Oktober 1906 di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir. Ia adalah tokoh pergerakan Islam di Mesir Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal al-Qur’an. Pada usia 13 tahun ia telah ikut dalam demonstrasi terhadap pergolakan politik di Mesir dan juga dominasi Inggris di wilayah Mahmudiyah. Keprihatinan   besar terhadap carut marutnya kehidupan politik, ekonomi, sosial  Mesir pasca lepasnya mesir dari Turki memuncukan ide mendirikan sebuah organisasi yang bisa menjadi wadah bagi orang-orang yang peduli terhadap masalah tesebut.

Ikhwanul Muslimin

Setelah jatuhnya Khilafah Islamiyah Turki Utsmaniyah tanggal 3 Maret 1924, kondisi Negara Timur Tengah memprihatinkan dimana telah marak  terjadi westernisasi, serta imperialisme yang dilakukan negara-negara barat terhadap negara-negara Islam. Timbullah penentangan dari tokoh-tokoh Islam diberbagai antara lain Jamaludin Al Afgani, Muhammad Rasyid Ridha (India) Maulana Al-Maududi (Pakistan), Said Nursi (Turki), Hasan Al Banna (Mesir) dan di beberapa Negara muslim lainnya.

Kiprah Hasan Al Banna adalah mendirikan organisasi pergerakan Islam yang bernama Ikhwanul Muslimin pada Bulan Zulqa’dah 1347 H atau tanggal 20 Maret 1928 di kota ismailiyah. Ikhwanul Muslimin bertujuan mengamalkan Islam secara murni dan konsekwen. Pertama kali yang dilakukan Hasan Al Banna bersama Ikhwanul Muslimin nya adalah mengadakan dakwah ke berbagai kawasan di Mesir. Disusul dengan mendirikan masjid-masjid, lembaga pendidikan dan industri kecil. Ikhwanul Muslimin berkembang pesat di seluruh Mesir. Pada Muktamar ketiga ditetapkan dasar ideologi Ikhwanul Muslimin yaitu : (1) Islam sebuah sistem yang total, lengkap dan harus dijadikan dasar dalam segala aspek kehidupan muslim (2) Ajaran Islam harus didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits (3) Ajaran Islam bisa dilaksanakan setiap tempat dan waktu.

 Selanjutnya gerakan Islam ini juga telah merambah ke berbagai negara antara lain tahun 1937 berdiri cabang di Syria dan Lebanon, tahun 1946 bediri cabang di Palestina, Jordania, dan Sudan.

Ikhwanul Muslimin juga berpandangan bahwa politik adalah bagian yang menyatu dalam ajaran Islam, sehingga otomatis Ikhwanul Muslimin sendiri juga berpolitik praktis atau menjadi partai politik. Menjelang Perang Dunia II, organisasi ini sudah punya posisi kuat di parlemen Mesir.

Keterlibatan Ikhwanul Muslimin dalam politik di Mesir itu pula yang menyebabkan wafatnya Hasan Al Banna. Meninggalnya Hasan Al Banna bermula ketika antara 1948 dan 1949, tidak lama setelah Ikhwanul Muslimin mengirim relawan untuk membantu perjuangan rakyat Palestina melawan Israel dan saat itu popularitas Ikhwanul Muslimin semakin meningkat di mata rakyat Mesir. Namun terdengar desas-desus akan  merencanakan kudeta, konflik antara Ikhwanul Muslimin dan pemerintah meningkat di bulan Desember 1948. Aktifis Ikhwanul Muslimin banyak yang ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Beberapa waktu  kemudian, Perdana Menteri Mahmoud dibunuh oleh seorang anggota Ikhwanul Muslimin yang bernama Abdul Majid Hasan Ahmad.

Setelah pembunuhan itu, Al-Banna segera mengeluarkan pernyataan mengutuk pembunuhan itu, yang menyatakan teror bukanlah cara yang bisa diterima dalam Islam. Hal ini pada gilirannya mendorong pembunuhan Al-Banna. Pada tanggal 12 Februari 1949 di Kairo,  Hasan Al-Banna bersama saudara iparnya yang bernama Abdul Karim Mansur pergi ke kantor pusat Jamiyyah al-Shubban al-Muslimin di Kairo untuk bernegosiasi dengan Menteri Zaki Ali Basha yang mewakili pihak pemerintah. Namun Menteri Zaki Ali Basha tidak datang. Akhirnya Hasan Al Banna dan saudaranya iparnya memutuskan untuk meninggalkan kantor tersebut. Ketika menunggu yang akan mengantar mereka pulang, datang dua orang yang melepaskan tembakan ke arah Hasan Al Banna. pembunuhan itu terjadi ketika Al-Banna dan saudaranya sedang menunggu taksi. Setelah dibawa ke rumah sakit, ia malah tidak mendapatkan perawatan, akhirnya Hasan Al Banna meninggal pada tanggal 12 Februari 1949 di Kairo.

 Anti Imperialisme dan pendukung kemerdekaan Indonesia

Hasan Al-Banna dan Ikhwanul Musliminnya aktif dalam menentang imperialisme Inggris di Mesir. Selama Perang Dunia II, ia sempat ditangkap oleh pemerintah pro Inggris, yang melihatnya sebagai perbuatan subversif. Meski demikian Hasan Al Banna sangat menghindari cara kekerasan dalam perjuangannya. Hasan Al Banna mendukung kemerdekaan negara-negara Islam yang terjajah. Hal itu dibuktikannya kepada Indonesia di saat memproklamirkan kemerdekannya. Al Banna adalah salah satu anggota Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Mesir yang didirikan tanggal 16 Oktober 1945. Dengan kemampuan diplomasi yang dimilikinya, Mesir menjadi negara timur tengah pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia tanggal 22 maret 1946. Selain itu juga diadakan unjuk rasa mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ketika mendengar kabar terjadinya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya, para aktifis Ikhwanul Muslimin mengadakan sholat Ghaib mendoakan arwah pahlawan yang gugur di medan pertempuran. Demikian pula ketika Belanda mengadakan agresi militer I tanggal 21 Juli 1947, ribuan aktifis Ikhwanul Muslimin menggelar demo besar-besaran menentang aksi militer tersebut dan menyerang kapal-kapal Belanda di pelabuhan Port Said Terusan Suez.  Atas jasa Hasan Al Banna pemerintah presiden Soekarno mengirim utusan ke Mesir untuk menyampaikan rasa terima kasih atas nama rakyat Indonesia kepada Hasan Al Banna dan Ikhwanul Muslimin.

One comment on “Hasan Al Banna, tokoh pergerakan Islam pendukung kemerdekaan Indonesia

  1. banyak yg nggak kita tahu tentang tokoh ini ya, kirain tokoh pemikir teroris. ternyata hasan al bana adalah pahlawan untuk negara kita juga

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s