Dari Gelap menuju Cahaya : pemikiran-pemikiran Kartini

Sejarah Indonesia mencatat Kartini sebagai pahlawan Nasional atas pengabdiannya dalam memajukan peran wanita atau dengan kata lain memperjuangkan emansipasi. Namun sebenarnya dalam proses perjuangannya Kartini mengalami banyak sekali pertentangan dalam pikirannya. Kartini mengalami fase-fase dalam hidupnya dalam rangka mencari bagaimana tipe seorang wanita yang tepat dalam perjuangan bangsa ini.

Pendidikan Kartini hanya sampai sekolah dasar atau lebih dikenal dengan ELS (Europese Lagere School). Pengetahuan yang diperoleh Kartini antara lain kemampuan ber bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Dengan kemampuannya tersebut, ia banyak menulis surat kepada beberapa orang Belanda yang berisi curahan hati tentang masalah yang ia hadapi.

Adat keningratan Jawa

Kartini mulai merasakan adat istiadat jawa yang peraturannya begitu ketat hingga dalam timbul dalam pikirannya untuk menentangnya sebagaimana bait-bait yang ia tulis berikut ini :

Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit, adikku harus merangkak bila hendak berlalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku berlalu , haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh ber-kamu dan ber-engkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dengan bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah selalu diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk, bila kita berada dalam lingkungan keluarga Bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya harus perlahan-lahan, sehingga hanya orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendegarnya. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat dicaci orang disebut kuda liar (surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Pemikiran Kartini tersebut terinspirasi dari semboyan Revolusi Perancis yaitu Liberte Egalite Fraternite (kemerdekaan persamaan persaudaraan). Menurutnya setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama tidak peduli bangsawan ataupun rakyat jelata. Ia berusaha merubah cara pandang adat jawa tersebut dengan memulainya bersama saudara-saudara terdekatnya seperti pada surat kepada Stella (18 Agustus 1899) berikut ini:

Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu. Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan.

Pendapat Kartini tentang keningratan yang begitu obyektif juga muncul dalam cuplikan suratnya kepada Stella berikut ini

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graff atau Baron? Tidak dapat dimengerti oleh pikiranku yang picik ini. (18 Agustus 1899)

Pengaruh Barat

Selain lontaran kritik terhadap adat kebangsawanan yang begitu mengekang, Kartini juga melihat adanya diskrimininasi pemerintah penjajah Belanda terhadap Bumiputera

Bolehlah negeri Belanda merasa berbahagia memiliki tenaga-tenaga ahli yang amat bersungguh-sungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memiliki buku selain buku pelajaran (surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902)

Imej yang berlaku pada saat itu adalah segala sesuatu yang berbau Belanda (eropa) dinggap lebih baik dari budaya dan pemikiran lokal, seperti surat Kartini berikut :

Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik : orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang eropa.(surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899)

Kartini pun mempunyai keinginan belajar ke Belanda agar kelak menjadi bekal baginya meningkatkan harkat dan martabat orang Jawa dengan meningkat tingkat pendidikan rakyat.

Aku ingin melanjutkan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih (surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900)

Namun sayang niat baik Kartini menimba ilmu di negeri Belanda tidak kesampaian. Adalah Mr.J.H Abendanon yang paling gigih menghalangi niat baik Kartini tersebut. Keinginan Abendanon tersebut bukannya tanpa alasan, atas nasihat dari Snouck Hurgronje, seorang arsitek yang merancang kemenangan Belanda dalam perang Aceh. Hurgronje berpandangan bahwa kekuatan yang paling gigih menentang penjajahan Belanda adalah Islam terutama golongan santrinya, maka harus diadakan westernisasi untuk membendung pemikiran Islam. Dan yang menjadi sasaran westernisasi tersebut adalah kaum bangsawannya. Kartini adalah bagian dari kaum bangsawan yang mempunyai pemikiran menentang penjajahan, dengan kepergian Kartini ke Belanda, niat tersebut akan tertunda. Dengan bantuan Annie Glaser, guru Bahasa Perancis Kartini yang mengerti secara psikologis pemikiran Kartini, Abendanon berhasil membujuk Kartini agar tidak jadi berangkat ke Belanda. Kartini dalam memandang positif peradaban Barat dalam hal ilmu pengetahuan, namun disatu sisi ia memandang banyak budaya barat yang merusak mental dan spiritual masyarakat Jawa sebagaimana suratnya berikut ini :

Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban ?    (Surat Kartini kepada Ny.EE.Abendanon, 27 Oktober 1902)

Kritik pedas pun kerap kali ia lontarkan kepada pemerintah kolonial Belanda, salah satu kritikannya dilontarkan kepada Departemen Kesehatan dalam bentuk nota :

Para dokter hendaklah juga diberi juga kesempatan  untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat menyolok terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan rakyat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab. Jikalau seorang awam menceritakan bahwa darah cacing atau belut dapat menyembuhkan mata yang bengkak, mungkin ia akan ditertawakan. Namun adalah suatu kenyataan bahwa air kelapa dan pisang batu dapat dipakai sebagai obat. Soalnya sebetulnya sangat sederhana : penyakit-penyakit dalam negeri sebaiknya diobati dengan obat-obatan dari negeri itu sendiri. Telah seringkali terjadi bahwa orang-orang sakit bangsa Eropa, teristimewa yang menderita penyakit Desentri atau penyakit tropis lain, yang oleh dokter-dokter sudah dinyatakan tidak dapat disembuhkan, masih dapat ditolong oleh obat-obatan kita yang sederhana dan tidak membahayakan. Sebagai contoh belum lama berselang, seorang gadis pribumi oleh seorang dokter dinyatakan menderita penyakit TBC kerongkongan. Dokter itu meramalkan bahwa anak itu paling lama dapat bertahan dua pecan dan akan meninggal dalam keadaan yang mengerikan. Dalam keadaan putus asa ibunya membawanya kembali ke desanya untuk diobati di sana. Dan gadis itu sembuh, menjadi sehat, tidak merasa sakit lagi dapat bicara kembali. Apa obatnya Serangga-serangga kecil yang didapat di sawah, ditelan hidup-hidup dengan pisang Emas. Pengobatan yang biadab? Apa boleh buat. Bagaimanapun obat itu menolong sedang obat dokter tidak.

Dokter-dokter kita sebetulnya dapat juga mengumumkan kasus-kasus seperti itu. Tetapi mereka tidak pernah melakukan demikian. Mungkin karena akan ditertawakan oleh para sarjana ? Seorang dokter bangsa bumiputera yang pengetahuannya setaraf dengan rekannya bangsa Eropa, jika yakin akan sesuatu, mestinya harus berani menyatakan dan mempertahankan keyakinannya.

Sungguh sebuah kritik yang berani disaat bangsa kita pada waktu itu terbelenggu penjajah. Selain itu pemikiran yang luar biasa, bagaimana Kartini melihat potensi muatan lokal dari bangsanya sendiri yang sangat luar biasa  di tengah superioritas pengaruh barat yang dianggap sebagai kiblat ilmu pengetahuan.

Islam

Kartini mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan ketika suatu hari guru mengajinya menyuruhnya keluar ketika ia menanyakan arti dan makna dari Al Qur’an yang ia baca. Sejak itu timbul pertanyaan dalam dirinya, mengapa hal itu terjadi ?

Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Disini orang diajar membaca Al Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajar aku membaca buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukanlah begitu Stella?        (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1890)

Sungguh sebuah pemikiran yang luar biasa dari Kartini, begitu kritis pemikirannya. Jiwa berontak terhadap sesuatu yang ia anggap tidak logis. Keinginannya mendalami Islam sangat kuat. Dan pada akhirnya Kartini melakukan aksi mogok tidak mau mengaji Al Qur’an sebagai protes atas keadaan yang ia alami dan juga umat Islam pada waktu itu.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al Qur’an, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahas asing yang tidak aku mengerti artinya. Dan jangan-jangan ustadz dan ustadzahku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya (Surat Kartini kepada E.E Abendanon, 15 Agustus 1902)

Kegundahan Kartini akhirnya berakhir setelah pertemuannya dengan KH. Muhammad Sholeh bin Umar atau lebih dikenal dengan Kyai Sholeh Darat, seorang ulama dari Darat Semarang. Kartini menceritakan pengalamannya, sang kyai pun meresponnya dengan baik dan berjanji akan menterjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa. Pada saat pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat memberi kado berupa terjemahan Al Qur’an sampai dengan 13 Juz berbahasa Jawa. Maka Kartini pun antusias mempelajari Islam. Namun sayang terjemahan karya sang kyai belum selesai sang kyai wafat. Setelah mengenal Islam lebih mendalam, Kartini pun ingin menjadi seorang muslimah yang taat kepada perintah agama

Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi yaitu hamba Allah (Abdullah)   (Surat Kartinii kepada Ny. EE.Abendanon 1 Agustus 1903)

Dari gelap menuju cahaya

Kumpulan surat-surat Kartini kepada beberapa tokoh Belanda dikumpulkan Mr. Abendanon. Kumpulan surat-surat tersebut diberi judul dalam bahasa Belanda Door Duisternis Tot Licht. Selama ini kita mengenal dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia “Habis gelap terbitlah terang”. Kumpulan surat-surat Kartini tersebut karena banyak surat sebelum ia meninggal banyak mengulang kata  Door Duisternis Tot Licht. Tetapi apakah makna dibalik kalimat berbahasa Belanda tersebut ?. Prof Dr. Haryati Soebadio (menteri Sosial era Orde Baru) yang tidak lain cucu tiri RA.Kartini lebih mengartikan Door Duisternis Tot Licht dengan Dari Gelap menuju cahaya. Kartini terinspirasi dari penggalan ayat 257 surat Al-Baqarah Minazh-Zhulumaati Ilan-nur (Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya). Kartini telah melampaui fase dalam kehidupan mulai dari sebuah kungkungan adat yang membuat dirinya tidak berkembang lalu berkenalan dengan dunia barat yang mempunyai pengaruh positif dalam bidang ilmu pengetahuan serta pengaruh negatif dalam hal moral dan tingkah laku. Demikian pula pencariannya terhadap Islam dan menemukan Islam sebagai agama yang membawa kebahagiaan. Bagaimana emansipasi menurut Kartini ?

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama  (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan nyonya,  4 Oktober 1902)

Monumen Jenderal Soedirman

Dalam Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman di Desa Pakisbaru Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan,tersirat nilai-nilai luhur sang Jenderal dalam memegang amanat perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Ketika kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, akan berusaha direbut kembali oleh Belanda, Jendral Soedirman sebagai Panglima TNI memimpin perang gerilya meskipun dalam keadaan sakit pada paru-paru beliau.

Setelah Agresi Militer II, Belanda berhasil menguasai Yogyakarta dan menahan Bung Karno, Bung Hatta serta tokoh-tokoh lain, Jenderal Soedirman memimpin pasukan TNI melakukan perang gerilya. Dalam memimpin gerilya beliau beserta pasukannya melintasi Sembilan kabupaten selama tujuh bulan (214 hari). Dalam rentang waktu tersebut, gerilya paling banyak dilakukan di pegunungan wilayah Pacitan mulai tanggal 1 April sampai dengan 7 Juli 1949, hingga Indonesia bisa direbut kembali. Selama bergerilya yang melintasi hutan dan pegunungan beliau ditandu anak buahnya mengingat keadaan fisik yang digerogoti sakit pada paru-parunya. Untuk menghindari pasukan Belanda, beliau melakukan penyamaran sebagai penduduk desa biasa, nama samarannya yang terkenal adalah  Pakdhe.

Beliau berpesan kepada anak buahnya senajan sedina ana lindhu kaping pitu, tetepa olehmu gondhelan waton yang artinya kurang lebih meski satu hari terjadi tujuh kali gempa, tetaplah memegang teguh pada prinsip yang kita pegang.

Demikianlah nilai-nilai luhur dari sang Jenderal, sikap nasionalisme dan patriotisme yang luar biasa dilakukan tanpa pamrih demi Negara kesatuan Indonesia.

Anti imperialis sebuah pemikiran dan sikap Soekarno

Selain dikenal seorang pemimpin yang menghendaki bersatunya semua komponen bangsa, Ir. Soekarno juga dikenal memiliki pemikiran yang anti terhadap penjajahan atau imperialis. Hal tersebut tidak saja ditunjukkan sebelum kemerdekaan, bahkan selama beliau memimpin pemerintahan pemikiran tersebut begitu terasa dalam keputusan dan kebijakannya.

 Pembebasan Irian Barat

Dalam Konfrensi Meja Bundar yang diadakan tanggal 27 Desember 1949, salah satu poin yang disetujui adalah Serah terima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia, kecuali Papua Bagian Barat.Indonesiaingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi daerahIndonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan Papua bagian barat negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Karena itu pasal 2 menyebutkan bahwa Papua bagian barat bukan bagian dari serah terima, dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun setelah perjanjian. Namun pada kenyataannya setelah satu tahun yaitu tanggal 27 Desember 1950, Belanda mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Pembebasan Irian barat dijadikan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Soekarno setelah sepuluh tahun Indonesia merdeka, program itu disebut Pancadarma yaitu:

1.  Kembali kepada persatuan

2.  Memberantas pengacauan

3. Memperhebat pembangunan

4. Memperhebat perjuangan Irian Barat dan antikolonialis-imperialis

5. Menyelenggarakan pemilihan umum

 Sebagai langkah pembebasan Irian Barat berikutnya adalah dikeluarkannya perintah yang disebut dengan Tri Komando Rakyat (TRIKORA). Isi Trikora di keluarkan Presiden Soekarno tanggal 19 Desember 1961 sebagai berikut:

 1. Pancangkan Sang Saka Merah Putih di Irian Barat.

 2. Gagalkan Negara Boneka Papua Barat bentukan Belanda.

 3. Adakan mobilisasi umum.

Presiden Soekarno kemudian membentuk Komando Mandala dengan Mayjen Soeharto sebagai komandannya. Operasi militer pun digelar, namun kurang terkoordinasi antar kesatuan dan berjalan sendiri-sendiri. Dalam operasi militer tersebut gugur Komodor Yos Sudarso pada pertempuran Laut Aru tanggal 15 Januari 1962, bersama KRI Macan Tutul yang di komandoinya tenggelam terkena serangan pesawat tempur Belanda.

Operasi militer yang lebih terpadu akhirnya dilakukan, pengiriman pasukan dilakukan lewat penerjunan yang disertai dengan operasi amphibi.

Konflik antara Indonesia dan Belanda akhirnya berakhir setelah tercapainya Perjanjian New York  tanggal 15 Agustus 1962. Indonesia resmi mengambil alih kekuasaan di Irian Barat tanggal 1 Mei 1963. Pembebasan Irian Barat merupakan salah satu bagian pendirian dari Presiden Soekarno yang anti imperialis.

Demikian pula mengenai Timor timur yang pada waktu itu dijajah Portugis, ada keinginan dan cita-cita beliau untuk membebaskan dan memasukkan wilayah tersebut ke Indonesia, sebagaimana beliau sampaikan pada ceramah Universitas Gajah Mada Yogyakarta tanggal 18 Desember 1961, berikut ini :

“……. Nah Pulau Timor, Pulau Timor. Tadi pagi pada waktu saya membuka, meresmikan Subcritical Atomic Reactor ada seorang gadis cantik pakaian Timor. Saudara dari mana ? Betul-betul dari Timor, Pak. Timor bagian sini. Timor bagian sana yang diduduki Portugal itukan ya satu ras dengan Timor bagian sini ? Kalau Negara bangsanya harus satu kulit, satu warna kulit, dus sebenarnya tidak ada keberatan kalau Timor, Timor Portugal juga masuk Republik Indonesia. Tapi keadaan tidak demikian Saudara-saudara. Kita hanya hendak membebaskan, memerdekakan tanah air kita yang dulu bernama Nederlans-Indie………”

(sumber : SOEKARNO, Warisilah api sumpah pemuda : kumpulan pidato Bung Karno di hadapan pemuda tahun 1961-1964)

Dari pidato di atas sebenarnya telah ada wacana dari Soekarno membebaskan Timor Timur dari belenggu imperialis, yang mana benar-benar masuk NKRI tahun 1977 dan kemudian menjadi Negara yang berdiri sendiri tahun 1999 melalui jajak pendapat dan sekarang bernama Timor Leste. Terlepas dari pro dan kontranya, Timor Timur telah menjadi bagian sejarah republik ini.

 Konfrontasi dengan Malaysia

Rencana dibentuknya negara federasi Malaysia yaitu penggabungan empat Negara bagian di semenanjung Melayu yaitu persekutuan tanah Melayu, Serawak, Sabah, dan Singapura  yang diprakarsai  Inggris, dianggap merupakan penindasan rakyat Sabah dan Serawak yang ingin terbebas dari belenggu penjajah Inggris. Pembentukan federasi Malaysia tersebut dianggap merupakan rencana Inggris memperluas jajahannya yang tentunya mengancam kedaulatan Indonesia dan Negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Langkah diplomatis kemudian ditempuh Presiden Soekarno, beliau mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Teuku Abdul Rahman tanggal 31 Mei sampai dengan 1 Juni 1963 untuk membicarakan masalah tersebut. Namun pada tanggal 9 Juli 1963 menandatangani persetujuan rencana pembentukan FederasiMalaysiadengan pemerintah kerajaan Inggris di London. Persetujuan itu berisi  pembentukan Federasi Malaysiadilaksanakan tanggal 31 Agustus 1963. Disitulah keteganganIndonesiamulai terjadi. Gelombang demonstrasi terjadi di kedua negara, Di Jakarta demonstrasi diadakan di Kedutaan Besar Inggris dan Malaysia yang berujung pada pembakaran Kedutaan Besar Inggris. Di Kuala Lumpur juga terjadi demonstrasi di KBRI, yang mana antara lain dilakukan dengan merobek foto Bung Karno dan menginjak-injak lambang negara Garuda Pancasila. Maka tak ayal lagi konfrontasi dengan Malaysia atau yang dikenal dengan sebutan “Ganyang Malaysia” dimulai yang antara lain melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Kuala Lumpur tanggal 17 Agustus 1963.

Pada tanggal 3 Mei 1964 mengeluarkan kebijakan mengenai konfrontasi dengan Malaysia dengan mengelarkan Dwi Komando Rakyat atau lebih dikenal dengan sebutan DWIKORA yang berisi :

  • Perhebat Ketahanan revolusi
  • Bantu perjuangan revolusioner rakyat di Malaysia, Singapura, Sabah, Serawak dan Brunei untuk menggagalkan Negara  Boneka Malaysia

Langkah kongkrit dari DWIKORA adalah pembentukan Komando Gabungan pada tanggal 16 Mei 1964 yang disempurnakan menjadi Komando Mandala I dan II.

Selanjutnya upaya diplomatis dilakukan Presiden Soekarno melalui jalur PBB, dengan upaya mencegah Malaysia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Namun usaha itu gagal, Malaysiaberhasil menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, bahkan PBB mengakui terbentuknya mengakui terbentuknya FederasiMalaysia. Sebagai protes, Indonesia keluar dari keanggotannya di PBB tanggal 7 Januari 1965.

Tanggal 20 Januari 1965 presiden Soekarno mendirikan Konfrensi kekuatan baru (CONEFO) yaitu organisasi tandingan dan menyelenggarakan GANEFO yaitu penyelenggaraan event olah raga tandingan Olimpiade.Pertempuran antara pasukan Indonesia dan Malaysia juga sering terjadi. Konfrontasi dengan Malaysia berakhir tahun 1966.

Diplomasi Luar Negeri

 “…………Salam kemerdekaan dan salam revolusioner kepadamu, hai Saudara-saudara di Afrika! Salam hangat dan doa selamat kepada Kamerun, kepada Togo, kepada Federasi Mali, kepada Konggo, Kepada Somali, kepada Malagasi, kepada Pantai Gading! Dan saya yakin: tidak lama lagi pun kepada bangsa-bangsa Afrika yang lain, yang juga pasti menang, pasti menang dalam perjuangan kemerdekaannya. Dan saya yakin pula, bahwa seperti juga bangsa Indonesia, dengan keteguhan, dengan segala ketabahan hati, dengan segala kebulatan tekad untuk meneruskan perjuangan mati-matian, saudara-saudara kita di Afrika itu akhirnya akan dapat mematahkan segala rintangan, menghancurleburkan segala halangan, baik dari dalam maupun dari luar. Berjuanglah terus, hai Saudara-saudara di Afrika, kemenanganmu pasti akan datang! Kami di Indonesia sendiri masih mengalami berbagai kesulitan, tetapi secara sederhana kami bersedia memberi bantuan sedapat mungkin bilamana dibutuhkan. Saudara-saudara tidak berdiri sendiri dalam perjuangan Saudara-saudara menentang imperialisme dan kolonialisme! Kemenangan Saudara-saudara adalah kemenangan kami, kemenangan kami adalah kemenangan Saudara-saudara!…………..”

(sumber : Presiden Soekarno : Amanat Proklamasi III 1956-1960 )

Demikian sebagian dari amanat Presiden Soekarno pada HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1960 di Jakarta. Pidato beliau sangat jelas menggambarkan pemikiran beliau yang anti terhadap imperialisme dan kolonialisme dan dukungan kepada negara-negara yang masih terjajah. Presiden Soekarno membagi kekuatan dunia menjadi dua yaitu Emerging New Forces yaitu kekuatan dunia baru yang bangkit setelah penjajahan maupun negara yang berusaha lepas dari penjajahan. Kekuatan kedua adalah Old Establish Forces yaitu kekuatan yang telah lama menguasai dunia. Langkah yang dijalankan Presiden Soekarno pertama kali adalah mengadakan Konfrensi Asia Afrika yang diadakan di Bandung tanggal 18-24 April 1955. Konfrensi ini diprakarsai lima negara yaitu Indonesia, India, Pakistan, Burma (sekarang Myanmar), dan Sri Lanka. Sebanyak 29 negara mengirimkan delegasinya pada konfrensi itu. Dalam konfrensi itu dibahas antara lain menentang segala bentuk kolonialisme, menentang intervensi negara barat terhadap negara di Asia dan Afrika, menyelesaikan konflik antara Cina dan Amerika Serikat secara damai, dan bagi Indonesia tentunya menyuarakan keinginan agar Belanda segera menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia. Konfrensi itu menghasilkan Dasa Sila Bandung yang berisi :

  • Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta azas-azas yang termuat dalam Piagam PBB
  • Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
  • Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.
  • Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain.
  • Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian mahupun secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  • (a). Tidak menggunakan peraturan-peraturan dan pertahanan kolektif untuk bertindak  bagi kepentingan khusus dari salah   satu  negara-negara besar   (b).  Tidak melakukan campur tangan terhadap negara lain
  • Tidak melakukan tindakan ataupun ancaman agresi mahupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
  • Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, atau penyelesaian masalah hukum , ataupun lain-lain cara damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  • Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
  • Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

Sebagai implementasi dari Konfrensi Asia Afrika, terbentuklah Gerakan  Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non Blok pada tahun 1961. Gerakan Non Blok bertujuan men menjamin kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan dari negara-negara nonblok dan berjuang menentang imperialisme, kolonialisme, apartheid, zionisme, rasisme dan segala bentuk intervensi militer serta menentang bentuk blok politik dan militer. Sebagaimana diketahui kekuatan dunia waktu itu terbagi dua Blok besar yaitu Blok Barat yang dimotori Amerika Serikat dan Blok Timur yang dimotori Uni Sovyet.

Menentang segala bentuk imperialisme telah menyatu dalam pikiran dan tindakan Presiden Soekarno. Di hadapan negara-negara imperialis pun beliau terang- terangan menentangnya. Meski kadang dianggap sekuler dalam politik dalam negeri tetapi beliau dianggap pemimpin negara-negara muslim oleh pemimpin negara-negara arab, terutama kiprah beliau menentang penindasan Israel terhadap Palestina.