Sejarah Indonesia mencatat Kartini sebagai pahlawan Nasional atas pengabdiannya dalam memajukan peran wanita atau dengan kata lain memperjuangkan emansipasi. Namun sebenarnya dalam proses perjuangannya Kartini mengalami banyak sekali pertentangan dalam pikirannya. Kartini mengalami fase-fase dalam hidupnya dalam rangka mencari bagaimana tipe seorang wanita yang tepat dalam perjuangan bangsa ini.
Pendidikan Kartini hanya sampai sekolah dasar atau lebih dikenal dengan ELS (Europese Lagere School). Pengetahuan yang diperoleh Kartini antara lain kemampuan ber bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Dengan kemampuannya tersebut, ia banyak menulis surat kepada beberapa orang Belanda yang berisi curahan hati tentang masalah yang ia hadapi.
Adat keningratan Jawa
Kartini mulai merasakan adat istiadat jawa yang peraturannya begitu ketat hingga dalam timbul dalam pikirannya untuk menentangnya sebagaimana bait-bait yang ia tulis berikut ini :
Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit, adikku harus merangkak bila hendak berlalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku berlalu , haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh ber-kamu dan ber-engkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dengan bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah selalu diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk, bila kita berada dalam lingkungan keluarga Bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya harus perlahan-lahan, sehingga hanya orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendegarnya. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat dicaci orang disebut kuda liar (surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
Pemikiran Kartini tersebut terinspirasi dari semboyan Revolusi Perancis yaitu Liberte Egalite Fraternite (kemerdekaan persamaan persaudaraan). Menurutnya setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama tidak peduli bangsawan ataupun rakyat jelata. Ia berusaha merubah cara pandang adat jawa tersebut dengan memulainya bersama saudara-saudara terdekatnya seperti pada surat kepada Stella (18 Agustus 1899) berikut ini:
Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu. Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan.
Pendapat Kartini tentang keningratan yang begitu obyektif juga muncul dalam cuplikan suratnya kepada Stella berikut ini
Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graff atau Baron? Tidak dapat dimengerti oleh pikiranku yang picik ini. (18 Agustus 1899)
Pengaruh Barat
Selain lontaran kritik terhadap adat kebangsawanan yang begitu mengekang, Kartini juga melihat adanya diskrimininasi pemerintah penjajah Belanda terhadap Bumiputera
Bolehlah negeri Belanda merasa berbahagia memiliki tenaga-tenaga ahli yang amat bersungguh-sungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memiliki buku selain buku pelajaran (surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902)
Imej yang berlaku pada saat itu adalah segala sesuatu yang berbau Belanda (eropa) dinggap lebih baik dari budaya dan pemikiran lokal, seperti surat Kartini berikut :
Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik : orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang eropa.(surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899)
Kartini pun mempunyai keinginan belajar ke Belanda agar kelak menjadi bekal baginya meningkatkan harkat dan martabat orang Jawa dengan meningkat tingkat pendidikan rakyat.
Aku ingin melanjutkan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih (surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900)
Namun sayang niat baik Kartini menimba ilmu di negeri Belanda tidak kesampaian. Adalah Mr.J.H Abendanon yang paling gigih menghalangi niat baik Kartini tersebut. Keinginan Abendanon tersebut bukannya tanpa alasan, atas nasihat dari Snouck Hurgronje, seorang arsitek yang merancang kemenangan Belanda dalam perang Aceh. Hurgronje berpandangan bahwa kekuatan yang paling gigih menentang penjajahan Belanda adalah Islam terutama golongan santrinya, maka harus diadakan westernisasi untuk membendung pemikiran Islam. Dan yang menjadi sasaran westernisasi tersebut adalah kaum bangsawannya. Kartini adalah bagian dari kaum bangsawan yang mempunyai pemikiran menentang penjajahan, dengan kepergian Kartini ke Belanda, niat tersebut akan tertunda. Dengan bantuan Annie Glaser, guru Bahasa Perancis Kartini yang mengerti secara psikologis pemikiran Kartini, Abendanon berhasil membujuk Kartini agar tidak jadi berangkat ke Belanda. Kartini dalam memandang positif peradaban Barat dalam hal ilmu pengetahuan, namun disatu sisi ia memandang banyak budaya barat yang merusak mental dan spiritual masyarakat Jawa sebagaimana suratnya berikut ini :
Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban ? (Surat Kartini kepada Ny.EE.Abendanon, 27 Oktober 1902)
Kritik pedas pun kerap kali ia lontarkan kepada pemerintah kolonial Belanda, salah satu kritikannya dilontarkan kepada Departemen Kesehatan dalam bentuk nota :
Para dokter hendaklah juga diberi juga kesempatan untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat menyolok terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan rakyat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab. Jikalau seorang awam menceritakan bahwa darah cacing atau belut dapat menyembuhkan mata yang bengkak, mungkin ia akan ditertawakan. Namun adalah suatu kenyataan bahwa air kelapa dan pisang batu dapat dipakai sebagai obat. Soalnya sebetulnya sangat sederhana : penyakit-penyakit dalam negeri sebaiknya diobati dengan obat-obatan dari negeri itu sendiri. Telah seringkali terjadi bahwa orang-orang sakit bangsa Eropa, teristimewa yang menderita penyakit Desentri atau penyakit tropis lain, yang oleh dokter-dokter sudah dinyatakan tidak dapat disembuhkan, masih dapat ditolong oleh obat-obatan kita yang sederhana dan tidak membahayakan. Sebagai contoh belum lama berselang, seorang gadis pribumi oleh seorang dokter dinyatakan menderita penyakit TBC kerongkongan. Dokter itu meramalkan bahwa anak itu paling lama dapat bertahan dua pecan dan akan meninggal dalam keadaan yang mengerikan. Dalam keadaan putus asa ibunya membawanya kembali ke desanya untuk diobati di sana. Dan gadis itu sembuh, menjadi sehat, tidak merasa sakit lagi dapat bicara kembali. Apa obatnya Serangga-serangga kecil yang didapat di sawah, ditelan hidup-hidup dengan pisang Emas. Pengobatan yang biadab? Apa boleh buat. Bagaimanapun obat itu menolong sedang obat dokter tidak.
Dokter-dokter kita sebetulnya dapat juga mengumumkan kasus-kasus seperti itu. Tetapi mereka tidak pernah melakukan demikian. Mungkin karena akan ditertawakan oleh para sarjana ? Seorang dokter bangsa bumiputera yang pengetahuannya setaraf dengan rekannya bangsa Eropa, jika yakin akan sesuatu, mestinya harus berani menyatakan dan mempertahankan keyakinannya.
Sungguh sebuah kritik yang berani disaat bangsa kita pada waktu itu terbelenggu penjajah. Selain itu pemikiran yang luar biasa, bagaimana Kartini melihat potensi muatan lokal dari bangsanya sendiri yang sangat luar biasa di tengah superioritas pengaruh barat yang dianggap sebagai kiblat ilmu pengetahuan.
Islam
Kartini mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan ketika suatu hari guru mengajinya menyuruhnya keluar ketika ia menanyakan arti dan makna dari Al Qur’an yang ia baca. Sejak itu timbul pertanyaan dalam dirinya, mengapa hal itu terjadi ?
Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Disini orang diajar membaca Al Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajar aku membaca buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukanlah begitu Stella? (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1890)
Sungguh sebuah pemikiran yang luar biasa dari Kartini, begitu kritis pemikirannya. Jiwa berontak terhadap sesuatu yang ia anggap tidak logis. Keinginannya mendalami Islam sangat kuat. Dan pada akhirnya Kartini melakukan aksi mogok tidak mau mengaji Al Qur’an sebagai protes atas keadaan yang ia alami dan juga umat Islam pada waktu itu.
Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al Qur’an, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahas asing yang tidak aku mengerti artinya. Dan jangan-jangan ustadz dan ustadzahku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya (Surat Kartini kepada E.E Abendanon, 15 Agustus 1902)
Kegundahan Kartini akhirnya berakhir setelah pertemuannya dengan KH. Muhammad Sholeh bin Umar atau lebih dikenal dengan Kyai Sholeh Darat, seorang ulama dari Darat Semarang. Kartini menceritakan pengalamannya, sang kyai pun meresponnya dengan baik dan berjanji akan menterjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa. Pada saat pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat memberi kado berupa terjemahan Al Qur’an sampai dengan 13 Juz berbahasa Jawa. Maka Kartini pun antusias mempelajari Islam. Namun sayang terjemahan karya sang kyai belum selesai sang kyai wafat. Setelah mengenal Islam lebih mendalam, Kartini pun ingin menjadi seorang muslimah yang taat kepada perintah agama
Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi yaitu hamba Allah (Abdullah) (Surat Kartinii kepada Ny. EE.Abendanon 1 Agustus 1903)
Dari gelap menuju cahaya
Kumpulan surat-surat Kartini kepada beberapa tokoh Belanda dikumpulkan Mr. Abendanon. Kumpulan surat-surat tersebut diberi judul dalam bahasa Belanda Door Duisternis Tot Licht. Selama ini kita mengenal dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia “Habis gelap terbitlah terang”. Kumpulan surat-surat Kartini tersebut karena banyak surat sebelum ia meninggal banyak mengulang kata Door Duisternis Tot Licht. Tetapi apakah makna dibalik kalimat berbahasa Belanda tersebut ?. Prof Dr. Haryati Soebadio (menteri Sosial era Orde Baru) yang tidak lain cucu tiri RA.Kartini lebih mengartikan Door Duisternis Tot Licht dengan Dari Gelap menuju cahaya. Kartini terinspirasi dari penggalan ayat 257 surat Al-Baqarah Minazh-Zhulumaati Ilan-nur (Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya). Kartini telah melampaui fase dalam kehidupan mulai dari sebuah kungkungan adat yang membuat dirinya tidak berkembang lalu berkenalan dengan dunia barat yang mempunyai pengaruh positif dalam bidang ilmu pengetahuan serta pengaruh negatif dalam hal moral dan tingkah laku. Demikian pula pencariannya terhadap Islam dan menemukan Islam sebagai agama yang membawa kebahagiaan. Bagaimana emansipasi menurut Kartini ?
Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan nyonya, 4 Oktober 1902)




