Gelar Budaya Ponorogo 2012

Dalam memperingati Hari Jadi Ponorogo ke 516 Pemkab Ponorogo mengadakan Gelar Budaya 2012 dengan menampilkan beerbagai kesenian baik dari Ponorogo sendiri seperti Reyog maupun kesenian yang lain seperti Keling, Gajah-gajahan, Odrot, Barongsai dan Liong maupun kesenian dari Tulungagung yaitu Reyog Tulungagung dan kesenian dari Pacitan

Situs bersejarah Sendang Beji

Situs bersejarah yang berada di Desa Karang Patihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo menjadi salah satu bukti bahwa Ponorogo menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Jawa kuno. Situs tersebut biasa disebut dengan Sendang Beji. Situs tersebut terdiri dari sebuah kolam. Di sekeliling kolam tersebut terdapat  3 buah arca, 2 arca berbentuk manusia dan 1 arca lagi berbentuk seperti bangunan rumah kecil.  Sebagaimana yang dimuat di www.antaranews.com tanggal  25 Pebruari 2011, Situs ini diperkirakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-10 masehi atau pada era Mpu Sendok di Jawa Timur. Dua situs berbentuk patung prajurit yang ditemukan di dekat patirtan diidentifikasi sebagai arca Gupala dan arca Agesti. Dugaan itu didasari pada karakteristik kendi kamandalu yang berada dalam pegangan tangan kiri arca. Kemungkinan tempat ini dulu digunakan untuk ritual atau beribadah, hal itu berdasarkan adanya arca Agesti yang merupakan penjelmaan Dewa Siwa. Tahun pembuatan dari arca-arca tersebut pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3)Trowulan mengaku belum bisa memastikan. Hal itu dikarenakan pihaknya sama sekali tidak menemukan adanya tulisan yang menunjuk pada tahun pembangunan situs bersejarah tersebut.

BP3 Trowulan juga  menjelaskan, gorong-gorong yang terbuat dari batu bata di dekat patirtan berfungsi mengalirkan air yang berasal dari mata air menuju kolam.  Keberadaan gorong-gorong itu dimaksudkan untuk mengalirkan air dari mata air ke kolam yang jaraknya cukup jauh.  

Info yang kami dapatkan dari salah seorang warga, dulunya ada 6 arca. Di sendang tersebut mengalir air dari pegunungan dan memancar lewat patung yang berada di tengah sendang. Demikian pula mengenai jaman pembuatan situs ini, beberapa pihak ada yang menyatakan situs ini dibuat pada jaman kerajaan Kediri era Prabu Jayabaya ataupun Prabu Angling Darmo.

Sejarah Tegalsari yang jauh dari politik

Sejarah dan cerita yang berkaitan dengan Masjid Tegalsari telah banyak  ditulis dan diunggah, namun ada bagian tertentu yang menarik bagi saya terutama kiprah kyai-kyai Tegalsari sebagai ulama yang menjauhkan diri dari gelanggang politik dan kekuasaan meski punya bargaining position di area itu

Sebagaimana kita ketahui sejarah Tegalsari merupakan salah satu bagian yang tak tepisahkan dari Ponorogo, selain sejarah Wengker dan Kadipaten Ponorogo yang didirikan Batoro Katong.  Bahkan sejarah Tegalsari telah menjadi bagian sejarah Islam Jawa dan menjadi salah satu panutan muslim khususnya yang berpaham moderat dan tradisional, tak terkecuali waktu Gus Dur menjabat Presiden RI beberapa kali beliau singgah di kompleks Masjid yang miniaturnya dibuat di Jatim Park tersebut. Gus Dur sendiri masih keturunan Kyai Ageng Mohammad Besari.

Pada tahun 1742 keraton Surakarta diserang gerombolan pemberontak, Sultan Pakubuwono II mengungsi ke daerah Ponorogo dan bermukim sementara di Tegalsari. Akhirnya dengan bantuan Kyai Ageng Mohammad Besari dengan santrinya keraton Surakarta bisa direbut kembali tahun 1743. Sebagai balas budi atas jasa yang besar terhadap keraton Surakarta, Pakubuwono II menawarkan jabatan Bupati kepada sang kyai. Namun dengan halus Kyai Ageng Mohammad Besari menolaknya karena lebih mementingkan kegiatannya dalam mendidik para santri di pesantrennya.

Hal yang kurang lebih sama juga dialami sang cucu yaitu Kyai Ageng Kasan Besari. Pada waktu itu Pesantren Tegalsari telah berkembang menjadi pesantren yang besar dengan santri mencapai lebih dari 1000 orang, yang berasal tidak hanya dari Ponorogo tapi dari luar Ponorogo bahkan luar Jawa. Seperti juga sang kakek dan ayah yaitu Kyai Ilyas, Kyai Ageng Kasan Besari selain sebagai pengasuh pesantren juga menjabat sebagai lurah desa Tegalsari. Saat itu diterapkan syari’at Islam di desa tersebut, manakala ada yang mencuri maka hukumannya dipotong tangannya.

Mendengar hal tersebut Sultan Pakubuwono IV, memanggil dan menghukumnya karena dianggap melanggar aturan kerajaan. Kyai Ageng Kasan Besari rencananya akan dibuang ke luar Jawa tapi anehnya setiap kapal yang akan mengangkut beliau berlayar dari Jakarta mesti tidak bisa jalan begitu beliau naik. Hal tersebut terjadi  berulang-ulang, sampai akhirnya kembali di tahan di keraton Surakarta tapi ditempatkan di Masjid sambil diborgol tangannya. Para santrinya banyak menjenguk begitu tahu sang Kyai kembali ke Keraton. Kyai Ageng Kasan Besari bisa saja melepaskan diri dari borgol yang mengikatnya mengingat ilmunya yang sangat tinggi, tetapi hal itu tidak dilakukan karena beliau sadar hal tersebut sudah ketentuan dari-Nya.

Suatu saat keraton mengadakan Sholawatan, Kyai Ageng Kasan Besari ditunjuk sebagai imamnya. Suara beliau yang bagus membuat salah satu putri Pakubuwono IV terpikat kepadanya. Singkat cerita sang raja mengampuni kesalahannya dan menikahkan dengan putrinya. Tetapi Kyai Ageng Kasan Besari bukanlah tipe manusia yang haus akan kedudukan meski menjadi menantu seorang raja, beliau tidak meminta kedudukan atau jabatan yang tinggi. Beliau tetap kembali ke Tegalsari dengan memboyong istrinya dan tetap mengabdikan dirinya untuk menjadikan santri-santrinya menjadi insan yang taqwa dan punya bekal ilmu agama yang cukup sehingga kelak santri-santrinya menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dari sosok dua kyai tersebut bisa kita gambarkan pola pikir yang tidak mencintai hal-hal bersifat materialistis dan keduniawian secara berlebihan dan tetap komitmen mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Beliau berdua tidak mau masuk area politik dan kekuasaan meski kesempatan itu ada. Mungkin beliau-beliau ini sadar politik kerajaan sejak Jaman Ken Arok bahkan jaman sebelumnya selalu diwarnai trik-trik kotor dan selalu menjadikan rakyat sebagai korbannya

Kerajaan Wengker, masa lalu Ponorogo

Wengker sebelum jaman Majapahit

Setelah kerajaan Medang di Jawa Tengah bubar, tahun 928 M Mpu Sindok pindah ke Jawa Timur. Mpu Sindok naik tahta menjadi raja pertama kerajaan Medang di Jawa Timur tahun 929 M bergelar Sri Isyana Wikrama Darmatunggadewa, yang mana menjadi moyang bagi raja-raja di Jawa selama 300 tahun berturut-turut. Ia memerintah dengan permaisurinya Parameswari Sri Wardani mpu Kbi (Putri Rakai Wawa), untuk menjalankan pemerintahan. Dalam buku “Babad Ponorogo” karya Purwowijoyo, disebutkan selain Mpu Sindok ada lagi satu rombongan yang pindah ke Jawa Timur dibawah pimpinan Ketut Wijaya, putra raja Medang. Kemudian mendirikan kerajaan yang diberi nama Wengker. Ketut Wijaya berkuasa tahun 986 -1037 M.

Nama Wengker adalah akronim dari “Wewengkon angker” atau tempat yang angker. Letak kerajaan Wengker dibawah pimpinan Kettu Wijaya bermacam versi. Dalam “Babad Ponorogo” disebutkan Sebelah utara : antara gunung Kendeng dan gunung Pandan, Sebelah Timur : Gunung Wilis sampai wilayah laut Selatan. Sebelah Selatan : Wilayah Laut selatan, dan Sebelah barat : pegunungan mulai laut selatan sampai Gunung Lawu. Dalam buku ini juga disebutkan keraton Wengker di sekitar Setono Kecamatan Jenangan (mengutip pendapat dari Prof.Dr. NJ.Krom dan Dra.Setyawati Suleman). Digambarkan Kerajaan Wengker pada saat itu aman santosa, rakyatnya senang melakukan tapa brata dan menguasai banyak ilmu batin. Adapun batas wilayah ditandai dengan sungai, untuk pertahanan wilayah terdapat tiga benteng dalam tanah istilahnya Benteng Pendem. Versi lain sebagaimana dalam buku “Ungkapan sejarah kerajaan Wengker dan Reyog Ponorogo” (Moelyadi) letak kerajaan Wengker masa ini adalah di daerah Dolopo Madiun, pusatnya di Desa Daha.

Pada tahun 947 M, Mpu Sindok digantikan anaknya yang bernama Sri Isyanatungga Wijaya yang menikah dengan Sri Lokapala. Selanjutnya ia digantikan putranya, Sri Makuthawangsa Wardana. Sri Makuthawangsa Wardana mempunyai dua orang putri. Salah satu putrinya menikah dengan Dharmawangsa. Selanjutnya sang menantu itulah yang kemudian memegang tampuk kekuasaan di Medang. Salah satu putri Makuthawangsa yang bernama Mahendradatta menikah dengan Udayana dan mempunyai anak bernama Airlangga. Dalam memimpin Medang, Dharmawangsa mempunyai ambisi besar memperluas wilayah. Kerajaan Medang saat itu diperkirakan di sekitar daerah Maospati Magetan

Pada tahun 1016 M, kerajaan Medang diserang Sriwijaya bersama sekutunya yaitu Wurawari dan Wengker, sehingga raja Dharmawangsa dan seluruh pembesar istana tewas. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “Pralaya“ atau kehancuran. Dalam Prasasti Kalkuta yaitu Prasasti Airlangga, disebut bahwa “Ri Prahara, haji Wurawari maso mijil sangka Lwaran”. Letak Wurawari ada beberapa pendapat. Menurut Moh. Hari Soewarno di Jawa Timur. Menurut Prof.Dr.G.De Casparis dari Semenanjung Malaka. Ada pula yang berpendapat di Banyumas. penyerangan Raja Wurawari ada yang berpendapat disebabkan iri atas kegagalannya mempersunting putri Dharmawangsa. Selain itu berserta sekutunya ingin menghancurkan Medang. Sementara keterlibatan Wengker adalah pengaruh ekspansif  Medang yang berusaha memperluas wilayah dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil dan juga persaingan di bidang ekonomi.

Satu-satunya yang berhasil lolos dari serangan tersebut adalah Airlangga, yang pada saat itu sedang melangsungkan pernikahan dengan putri Dharmawangsa. Pada waktu itu usia Airlangga 16 tahun, beserta Narotama ia bersembunyi di hutan sekitar daerah Wonogiri. Pada tahun 1019 M, Airlangga dinobatkan menjadi raja Kahuripan yang terletak di bekas reruntuhan bekas Kerajaan Medang. Saat itu bekas Kerajaan Medang sepeninggal Dharmawangsa merupakan wilayah yang kecil karena setelah “pralaya”, wilayah Medang terpecah-pecah.

Patung Ganesha diduga peninggalan WengkerTahun 1028 M, Airlangga memulai usahanya menyatukan kembali wilayah Medang, termasuk terhadap Kerajaan Wengker.  Tahun 1031 Wengker bisa ditaklukkan. Pada tahun 1035 M Kerajaan Wengker ternyata bangkit dan kuat lagi. Airlangga kembali menyerang Wengker dengan kekuatan pasukan yang besar pada tahun 1037 M, Kettu Wijaya mengalami kekalahan, terpaksa meninggalkan harta benda dan permaisurinya. Kettu Wijaya lari ke desa Topo, kemudian pindah ke Kapang diikuti beberapa prajuritnya. Karena terus diserang pasukan Airlangga ia lari ke Sarosa. Di sinilah akhirnya Ketut Wijaya bisa dikalahkan, dan ia dibunuh oleh prajuritnya sendiri, versi lain mengatakan Kettu Wijaya hilang beserta jiwa raganya (moksa). Sumber lain ada menyebutkan, setelah dikalahkan Airlangga Kettu Wijaya menjadi pertapa. Dengan demikian berakhirlah riwayat kerajaan Wengker era Kettu Wijaya. Selanjutnya wilayah Wengker menjadi daerah kekuasaan Airlangga.

Raja Wengker selanjutnya adalah Prabu Jaka Bagus (Sri Garasakan), yang memerintah Wengker tahun 1078 M, lokasi Wengker diperkirakan di utara gunung Gajah, desa Bangsalan Kecamatan Sambit Ponorogo. Prabu Jaka Bagus dikenal memiliki kesaktian yang luar biasa, untuk memiliki kesaktian tersebut ia tidak mempunyai istri, sebagai gantinya ia memelihara laki-laki sebagai gantinya atau yang biasa disebut “gemblak”. Raja Jaka Bagus dikenal sebagai raja warok pertama. Warok berasal dari WARA=pria agung, pria yang diagungkan.

Wengker di masa Kerajaan Majapahit

Dimasa pemerintahan Airlangga, wilayah Kerajaan Wengker tidak pernah terjadi peperangan maupun persengketaan, sebaliknya menjadi daerah yang aman tentram. Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua yaitu Kediri atau Daha dan Jenggala atau Panjalu. Sepeninggal Airlangga terjadi perang saudara antara kedua kerajaan tersebut. Situasi yang tidak stabil itu digunakan Wengker menyusun kekuatan baru sehingga sampai berdirinya Majapahit nama Wengker masih eksis bahkan hubungan kedua kerajaan terjalin dengan baik.

Dimasa pemerintahan Majapahit, Wengker dipimpin seorang raja bernama Raden Kudamerta (Wijayarajasa), dalam Kitab Nagarakartagama disebutkan “Priya haji sang umunggu Wengker bangun hyang Upandra Nurun Narpari Wijayarajasanopamana parama-ajnottama”. Dari kitab ini menunjukkan bahwa yang membangun kerajaan Wengker adalah Wijayarajasa, sebagai raja pertama. Dalam Kitab ini juga disebutkan Raden Kudamerta menikah dengan Bhre Dhaha. Raden Kudamerta berkedudukan di Wengker dengan nama Bhre Parameswara dari Pamotan yang dikenal dengan nama Cri Wijayarajasa. Yang dimaksud Bhre Dhaha adalah dewi Maharajasa adik Tribhuwana. Berarti Wijayarajasa adalah menantu Raden Wijaya.

Selain menjadi raja Wengker, Wijayarajasa merupakan tokoh yang mempunyai peran besar di Majapahit, antara lain : salah satu dari 8 tokoh yang diundang pada waktu pengangkatan mahapatih Gajahmada tahun 1364 M, diangkat menjadi anggota dewan Sapta Prabu, menjadi anggota dewan pertimbangan agung tahun 1351 M, mengambil tindakan tegas terhadap kesalahan yang dilakukan Gajahmada atas peristiwa Bubat, dan mendapat penghargaan dari Tribhuwana Tunggadewi.

Putra Wijayarajasa yang bernama Susumma Dewi/paduka Sori menikah dengan Hayam Wuruk tahun 1357M, setelah prabu Hayam Wuruk gagal menikah dengan putri Pajajaran yang meninggal pada peristiwa Bubad. Pernikahan itu merupakan pernikahan keluarga karena ibu Susumma Dewi adalah adik TriBhuawana Tunggadewi (ibu Hayam Wuruk). Hayam Wuruk dan Susumma Dewi adalah sama-sama cucu Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana).

Dari pernikahan-pernikahan yang melibatkan dua kerajaan (Majapahit dan Wengker), menurut Dr.NJ.Krom bahwa untuk pergi ke Bubad disamakan pendapat dengan ke Wengker. Sepeti kita ketahui Perang Bubad terjadi sebagai akibat perkawinan politik yaitu salah satu cara Majapahit menaklukkan kerajaan disekitarnya. Dalam hal ini meski Wengker adalah daerah kekuasaan Majapahit, tetapi kekuatan Wengker sangat diperhitungkan Majapahit kala itu.

Dalam kurun waktu ini, dari berbagai sumber memang jarang diungkap keadaan dalam kerajaan Wengker sendiri karena memang peran Wijayarajasa lebih banyak di Majapahit dibanding memimpin kerajaannya sendiri. Ada yang memperkirakan pusat pemerintahan Wengker pada saat itu berada di sekitar Kecamatan Sambit Ponorogo. Wijayarajasa meninggal pada tahun 1310 saka dimakamkan di Manar dengan nama Wisnubhawano.

Era kepemimpinan Wengker dimasa Majapahit berikutnya adalah Dyah Suryawikrama Girishawardana, ia adalah anak Dyah Kertawaijaya. Ia memimpin Wengker sejak ayahnya masih memimpin pemerintahan Majapahit tahun 1447-1451 M. Setelah kekosongan kekuasaan selama tiga tahun ia memimpin Majapahit selama 10 tahun (1456-1466 M). Dalam kitab Pararaton ia bergelar Bhre Hyang Purwawisesa. Ia meninggal tahun 1466 M dan dimakamkan di Puri. Sampai masa ini nama Wengker masih disebut-sebut dalam sejarah Majapahit.

Wengker dimasa Kerajaan Demak Bintoro

Diakhir kejayayaan Majapahit yang mana wilayah majapahit terpecah-pecah. Wilayah seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya memerdekakan diri. Kerajaan kecil yang tumbuh menjadi besar adalah kesultanan Demak yang diperintah Raden Patah sekitar awal abad XVI. Demak menguasai kota-kota pesisir lain seperti Lasem, Tuban, Gresik dan Sedayu. Raden Patah diakui sebagai pemimpin kota-kota dagang pesisir dengan gelar sultan. Dari Demak agama Islam disebarkan ke seluruh Jawa bahkan luar Jawa.

Raden Patah adalah putra Prabu Majapahit dengan putri Cina yang pada waktu hamil muda diberikan kepada Arya Damar, setelah lahir diberi nama Raden Patah. Prabu Majapahit yang mempunyai istri putri Cina adalah Brawijaya terakhir. Arya Damar menyatakan kepada permaisurinya bahwa putranya tesebut akan menjadi raja Islam yang pertama di Jawa. Sebagaimana kita ketahui Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa adalah Demak.

Pada saat Raden Patah menginjak dewasa kerajaan Hindu Majapahit telah mulai runtuh yang disebabkan perlawanan kaum bangsawan yang telah mendirikan kota di pantai utara dan mendapat dukungan Islam. Kesempatan ini dipergunakan Raden Patah menemui Sunan Ampel atau Raden Rahmad. Raden Patah mengutarakan beberapa hal mengenai Majapahit yang telah lemah. Raden Patah tinggal di rumah Raden Rahmad untuk belajar beberapa hal, setelah cukup diberi kedudukan di Bintoro.

Bintoro dikembangkan atas dasar Islam. Mendengar hal tersebut raja Majapahit, prabu Brawijaya mengangkat Raden Patah menjadi mangkubumi di Bintoro. Berkat dukungan para wali, Bintoro berkembang menjadi kerajaan Islam pertama dengan nama Demak tahun 1481 M, dibawah pimpinan Raden Patah dengan gelar Panembahan Djimbun.

Seiring munculnya Demak, Majapahit semakin parah dilanda krisis, Brawijaya telah diganti/direbut Girishawardana yang sebenarnya tidak berhak atas tahta Majapahit. Pada waktu raja Brawijaya terakhir, telah member wilayah kekuasaan kepada Raden Patah yang kelak dikemudian hari berkembang menjadi Kerajaan Demak. Hal yang berbeda dialami putra Brawijaya V lain yang bernama Raden Katong yang belum mempunyai wilayah kekuasaan. Hingga terdengar berita bahwa sebelah timur Gunung Lawu ada seorang demang dari Kutu yang tidak mau menghadap ke Majapahit. Maka Raden Katong disuruh menghadapkan demang tersebut ke Majapahit. Selain itu Raden Katong masuk Islam.

Demang Kutu tersebut adalah Ki Ageng Suryangalam atau terkenal dengan sebutan kutu. Ia punggawa Majapahit yang masih termasuk kerabat keraton maka oleh Prabu Kertabumi / Brawijaya V, ia diberi jabatan demang. Kademangan Kutu atau Surukubeng wilayahnya adalah bekas  kerajaan Wengker, yang mana seiring semakin lemahnya Majapahit. Ki Ageng Kutu meneruskan tata cara dan adat kerajaan Wengker dahulu. Para pembantu dan punggawanya diajarkan beladiri dan berperang serta tapa brata.

Sementara itu Raden Katong dating ke wilayah Wengker bersama dengan Seloaji. Mereka menemui Ki Ageng Mirah yang merupakan putra Ki Ageng Gribig, seoarang ulama dari Malang. Ki Ageng Mirah adalah penyebar Islam di Wengker. Banyak hal penting yang dijelaskan Ki Ageng Mirah kepada Raden Katong, termasuk kesulitannya dalam menyebarkan agama Islam. Mereka kemudian sepakat berjuang bersama, Raden Katong atas dasar pemerintahan sedangkan Ki Ageng Mirah atas dasar  penyebaran agama Islam. Mereka selalu koordinasi terhadap apa yang mereka hadapi dalam perjuangan ini. Ki Ageng Mirah senang mendapat mitra Raden Katong karena masih keturunan Majapahit. Masalah Raden Katong adalah Ki Ageng Kutu tidak mau menghadap ke Majapahit sedang Ki Ageng Mirah kesulitan dalam menyebarkan agama Islam.

Pihak Raden Katong berusaha melakukan pendekatan persuasif terhadap pihak Ki Ageng Kutu, antara lain dilakukan Ki Ageng Mirah terhadap Ki Ageng Kutu secara dialogis agar Ki Ageng Kutu bersedia menghadap ke Majapahit. Tapi Ki Ageng Kutu menolak dengan alasan antara lain Kerajaan Majapahit yang memberi pintu bagi penyebaran agama Islam padahal wilayah Wengker kebanyakan menganut agama sendiri yaitu Hindu dan Budha. Dia menganggap penyebaran Islam dipimpin Raden Patah dan justru Majapahit mengangkatnya menjadi penguasa Demak Bintoro. Ki Ageng Mirah menjelaskan bahwa pengangkan Raden Patah tidak salah karena masih putra Brawijaya V. Tapi Ki Ageng Kutu tetap menganggap hal yang dilakukan Majapahit merupakan hal yang menyalahi aturan kerajaan sendiri. Akhirnya upaya dialogis yang dilakukan Ki Ageng Mirah gagal.

Upaya persuasif dari pihak Raden Katong yang gagal dilaporkan kepada Prabu Brawijaya V, dan langkah yang dilakukan Brawijaya adalah mengirim pasukan Majapahit untuk menumpas Ki Ageng Kutu. Rombongan pasukan tersebut di pimpin oleh Raden Katong. Pada dasarnya Raden Katong enggan bermusuhan dengan pihak Wengker mengingat jasa Ki Ageng Kutu terhadap Majapahit begitu banyak. Tetapi Seloaji member nasehat bahwa apa yang dianggap Ki Ageng Kutu benar adalah menurut ki Ageng Kutu sendiri, sedangkan pihak kerajaan menganggap hal yang menyalahi peraturan dan Raja pun langsung memerintahkan untuk menumpas, maka ia menasehati Raden katong untuk tidak ragu-ragu bertindak.

Maka singkat cerita terjadilah peperangan antara tentara Majapahit yang dipimpin Raden Katong beserta Ki Ageng Mirah dan Seloaji serta beberapa tokoh lain. Jalannya peperangan termasuk didalamnya strategi perang yang dilakukan tidak dibahas ditulisan ini. Maka pada tahun 1468 M, kutu sebagai ibukota Wengker jatuh ke tangan Raden Katong dan bala tentaranya. Ki Ageng Kutu bisa dikalahkan tetapi tidak ditemukan jasadnya atau musnah di bukit yang kemudian disebut dengan Gunung Bacin. Ki Honggolono sebagai tangan kanan Ki Ageng Kutu Tewas dalam pertempuran ini. Raden Katong sangat terharu melihat kematian Ki Honggolono dan musnahnya Ki Ageng Kutu mengingat mereka berdua adalah para perwira yang berjasa besar kepada Majapahit terutama ketika merebut kembali Wengker yang sempat dikuasai Kediri. Konsolidasi dalam keluarga Ki Ageng Kutu juga dilakukan antara lain menikahi dua putrid Ki Ageng Kutu yaitu Niken Sulastri dan Niken Gandini, putra pertama Ki Ageng Kutu yang bernama Surohandoko menggantikan kedudukan ayahnya di Kademangan Kutu, Suryongalim dijadikan Kepala Desa di Ngampel, Warok Gunoseco menjadi kepala desa di Siman, Waro Tromejo di Gunung Loreng Slahung.

Setelah bisa menguasai bekas kerajaan Wengker, Raden Katong mendirikan Kadipaten Baru dengan nama PONOROGO,  PONO artinya sadar/selesai, ROGO artinya semedi. Kadipaten Ponorogo berdiri tahun 1496 M dengan Raden Katong sebagai Adipati pertama dengan gelar Kanjeng Panembahan Batoro Katong.

Demikian sedikit tentang sejarah perjalanan Kerajaan Wengker yang eksis selama ± 500 tahun , yang mana meskipun kerajaan kecil tetapi sangat diperhitungkan kekuataannya oleh kerajaan-kerajaan besar seperti Kahuripan dan Majapahit serta peletak dasar-dasar pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan budaya dari daerah yang sekarang bernama Ponorogo ini.

Batu dan patung bersejarah jaman Kerajaan Medang

Di Ponorogo tepatnya di Dusun Medang desa Sampung Kecamatan Sampung ditemukan batu dan patung yang diduga peninggalan kerajaan Medang di bawah pimpinan Mpu Sindok. Lokasi pertama di halaman rumah seorang warga

Lokasi kedua di belakang rumah yang tidak jauh dari lokasi pertama

Lokasi ketiga ditengah persawahan yg juga tidak jauh dari lokasi kedua, warga setempat menyebutnya “lumpang”, sebenarnya ada 2 batu yang satu disebut “alu” tapi hilang beberapa saat yang lalu.

dari ketiga peninggalan tersebut yang letaknya tidak terlalu berjauhan, diduga dulu dipakai sebagai sarana upacara meminta kemakmuran dari sang pencipta. Kondisi ketiganya kurang terawat.

Salah satu alasan mengapa dikatakan peninggalan kerajaan Medang, dusun tersebut juga bernama Medang. 

Informasi sementara ketiga benda bersejarah tersebut adalah peninggalan Kerajaan Medang dibawah pimpinan Mpu Sindok, tetapi dari referensi yang ada menyebutkan bahwa, Dharmawangsa sebagai penerus tahta Kerajaan Medang tahun 947 M, berkedudukan di sekitar wilayah Maospati Magetan, yang tidak jauh dari ditemukannya tiga peninggalan bersejarah tersebut.