Ibnu Zuhr dan Al-Zahrawi : perintis ilmu kedokteran dari dunia Islam

Dalam sejarah Islam dikenal beberapa intelektual muslim yang terkenal sebagai perintis dalam bidang kedokteran, sebut saja Ibnu Sina atau Avicena dan Al Razi atau Razhes. Selain itu masih ada dua nama yang merupakan pioner dibidang ini. Mereka adalah Abu Marwan Abdul Malik Ibu Zuhr atau Avenzoar dan Abu Al-Kaseem Khalaf Al-Zahrawi atau Abulcasis.

Abu Marwan Abdul Malik Ibnu Zuhr

Ibnu Zuhr dilahirkan di Sevilla Spanyol tahun 1091 M. Setelah menamatkan pendidikannya di Cordoba, ia bertempat tinggal di Baghdad Irak dan Kairo Mesir. Namun pada akhirnya ia lebih memilih Spanyol sebagai tempat pengabdiannya di bidang kedokteran. Pada jaman dinasti Al Murabatun atau Almoravides ia diangkat menjadi dokter istana. Dan pada waktu pemerintahan Abd Al Mukmin dari dinasti Muwahid ia diangkat menjadi menteri.

Ibnu Zuhr banyak melakukan terobosan dalam bidangnya seperti melakukan uji coba terlebih dari obat yang ia temukan kepada binatang sebelum digunakan kepada manusia. Ia juga membahas secara detail terhadap penyakit gatal-gatal sehingga dikenal sebagai Bapak Parasitologi.

Penemuannya yang fenomenal adalah terhadap pasien yang tidak bisa makan secara normal, Ibnu Zuhr menemukan cara dengan menyalurkan makanan langsung melalui gullet dimana seorang pasien bisa menyalukan melalui  tenggorokan. Penelitiannya yang membahas terapeutik dan diet ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul At-Taisir fi Al-Mudawat wa Al-Tadbir. Karyanya ini selalu menjadi acuan dalam ilmu kedokteran. Ada beberapa salinan manuskrip dari buku ini, salah satunya ditemukan di Bibliotheque Nationable de Paris. Salinan ini diselesaikan di Barcelona tahun 1165 M dan juga ditemukan di Bodleian Library of Oxford namun tidak diketahui tahunnya. Sedangkan yang ditemukan di Biblioteca Medicea-Laurenziana, Floren Italia dan di Al-Maktabe Al-Abdaliya Tunisia hilang.

 Buku karya Ibnu Zuhr berikutnya berjudul Al-Iqtisad fi Islah Al-Anfus wa Al-Ajsad, yang membahas hubungan jiwa dan tubuh, yang mana pertama kali ilmu psikologi dimasukkan dalam ilmu kedokteran. Disamping itu dalam buku ini juga dibahas mengenai berga penyakit, terapeutik dan higienitas. Buku tersebut ditulis dalam bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami orang yang awan dalam imu kedokteran.

Karya Ibnu Zuhr yang terakhir berjudul Al-Aghziya membahas mengenai obat-obatan dan pentingnya makanan sehat dan mempunyai kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh.

Berbagai penelitiannya tidak hanya dilakukan dalam laboratorium melainkan juga langsung melihat kasus dalam praktek kehidupan sehari-hari. Ibnu Zuhr meninggal di Sevilla tahun 1161 M.

Abu Al-Kaseem Khalaf Al-Zahrawi

Al-Zahrawi (324-403 H / 936-1013 M) dibarat disebut Abulcasis lahir di Zahra, yang terletak di sekitar Cordoba Spanyol. Di kalangan bangsa Moor Andalusia, dia dikenal dengan nama “El Zahrawi”. Ia adalah dokter kerajaan pada masa Khalifah Al-Hakam II dari kekhalifahan Umayyah yang merupakan perintis ilmu kedokteran spesialis ilmu bedah. Karyanya yang berjudul Al-Tasrif mengupas tetang ilmu bedah. Buku terebut terdiri dari 30 jiid disertai 200 ilustrasi. Al-Zahrawi membagi pembedahan menjadi tiga kategori yaitu : membakar, memotong, dan memolester. Alat-alat untuk pembedahan juga dibahas. Penemuannya yang lain yaitu operasi terhadap amandel dan menghasilkan alat menarik bayi dari rahim ibunya bila terjadi ganjalan dalam proses melahirkan. Ia pun dikenal ahli dalam bidang obat bius, diet dan pembuatan gigi palsu serta penemu berbagai jenis kosmetika sperti deodoran. Hand lotion dan juga pewarna rambut.

Keahliannya dalam ilmu bedah telah merambah Negara-negara eropa antara lain Prancis dimana seperti disebutkan dalam History of litetature in France bahwa pada abad XII telah tejadi kemajuan dalam ilmu bedah yang dibawa dokter-dokter yang datang ke Prancis berbekal ilmu dari Al-Zahrawi seorang dokter dari Andalusia. Namanya diakui praktisi kedokteran Eropa. Dokter Klodis seorang ahli bedah abad XV memperoleh banyak referensi dalam buku-bukunya dari Al-Zahrawi. Demikian pula Frari seorang dokter asal Italia yang merujuk karya Al-Zahrawi tentang makanan dan racun.

Al-Zahrawi meninggal tahun 1013 M di Cordoba. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan yaitu “Calle Abulcasis”. Sedangkan rumahnya dijadikan cagar budaya oleh pemerintah Spanyol.

Ramalan Jawa dalam masa perjuangan kemerdekaan

Penderitaan dimasa penjajahan dimana bangsa Indonesia saat itu mencari secercah harapan untuk lepas dari belenggu. Tumpuan rakyat dimasa itu salah satunya terletak pada beberapa ramalan yang sangat populer antara lain ramalan Jayabaya dan Ranggawarsita.

Seperti kita ketahui banyak isi ramalan-ramalan tersebut memberi harapan bagi rakyat tentang sebuah kebebasan dari penjajahan. Seperti ramalan Jayabaya yang menyebutkan tentang ‘ratu adil’ yang menjadi penyelamat. Ramalan tersebut sering digunakan memompa semangat perlawanan. Kehadiran Pangeran Diponegoro yang tampil heroik melawan penindasan Belanda dianggap masyarakat Jawa sebagai datangnya “Ratu Adil Herucakra”. Dalam menanggapi ramalan ini, pendapat Bung Karno yang pada saat itu menjadi tokoh muda berbeda, Dalam berbagai kesempatan Bung karno sering mengingatkan bahwa yang dimaksud “Ratu Adil Herucakra” adalah suatu keadaan dimana Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan atau boleh dikatakan suatu kemerdekaan.

Melihat fenomena yang berkembang dikalangan rakyat khususnya Jawa, pemerintah Belanda tidak tinggal diam, mereka khawatir munculnya perlawanan yang dahsyat dari rakyat. Mr Pleyte seorang menteri penjajahan Belanda sekitar tahun 1913-1918 mengemukakan bahwa ramalan Jayabaya jangan terlalu dihiraukan. Majalah Het Tijdschrift terbitan Mei 1912 memuat tulisan R. Nitiprojo mengenai ramalan Jayabaya. Dari tulisan di majalah ini, Belanda isu yang tersebar dari ramalan tersebut yaitu bahwa akan datang saatnya tanah Jawa mengalami masa keemasan. Pemerintah Belanda mengadakan penelitian mengenai kapan datangnya masa tersebut. Beberapa peneliti Belanda seperti Cohen, Stuart dan Brandes dilibatkan dalam penelitian tersebut. Mereka berusaha menemukan sesuatu yang tersirat dalam ramalan Jayabaya tersebut. Namun pada akhirnya peneliti-peneliti tersebut gagal dalam misinya tersebut.

Surat kabar Darmokondo terbitan 8 Januari 1930 memuat karya sastra Ki Ranggawarsita yang berbentuk tembang berjudul “Joko Lodang”. Salah satu bait dari Serat Joko Lodang yang cukup populer yaitu :

……….. para saudagar ingargya

Jroning jaman keneng sarik

Marmane sak isining mencit

NIR SAT ESTHINING URIP

Iku ta sengkalanipun

Pantoging nandang sudra……

Terjemahannya kurang lebih : para saudagar dipuja-puja,  didalam jaman yang rusak,  seluruh isi dunia, tertimpa kesengsaraan. Tamatnya segala penderitaan ini besuk pada tahun yang diberi sengkalan NIR SAT ESTHINING URIP.

Sengkalan tersebut kalau bisa diartikan tahun jawa 1860. Saat itu menunujukkan tahun masehi 1930 bertepatan tahun jawa 1860 bulan Ruwah sehingga tinggal beberapa buan lagi sudah masuk bulan Jimawal 1861. Pantoging nandang sudra (selesainya penderitaan) sesuai ramalan tersebut akan berakhir tahun itu.

Tulisan tersebut membuat pemerintah Belanda semakin berhati-hati, apalagi sebelumnya Bung Karno juga menulis artikel berjudul “Mencapai Indonesia merdeka”. Untuk menghindari sikap perlawanan dari rakyat, pemerintah Belanda melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh pergerakan termasuk Bung Karno yang mana diadili dan dibuang ke Flores.

Ramalan paling populer pada saat itu adalah sebuah ramalan Jayabaya yang mengatakan bahwa bila pulau Jawa tinggal selebar daun kelor, maka akan ada wiring kuning dedege cebol kepalang (jago kate bebulu kuning ) yang menguasai tanah Jawa selama seumur jagung. Ramalan tersebut secara tidak langsung memberi  semangat baru bagi rakyat bahkan tak jarang dijadikan alat perlawanan secara politis seperti yang ditunjukkan MH. Thamrin pada saat sidang Volksraad (dewan perwakilan bentukan Belanda) tanggal 13 Juli 1934 dimana pada saat itu MH.Thamrin member semacam “warning” kepada pemerintah Belanda dengan mengatakan bahwa ramalan tersebut sangat populer dikalangan rakyat baik di kota maupun desa, petani, pedagang apalagi seorang politikus. Pemerintah Belanda pun merespon isu ramalan tersebut dengan memberikan perhatian lebih terhadap tokoh politik yang fisiknya mirip seperti yang ada dalam ramalan itu.

Di tengah penantian munculnya tokoh berperawakan wiring kuning dedege cebol kepalang tersebut, Jepang muncul sebagai kekuatan militer baru yang kuat. Pengeboman Pearl Habour di Hawai yang mana menjadi pangkalan militer Amerika dilanjutkan penaklukan wilayah tentara sekutu di berbagai wilayah dan sampai masuk wilayah Indonesia dan memaksa Gubernur Jenderal Tjarda Starkenborg Stackhower menandatangani perjanjian Kalijati pada tanggal 9 Maret 1942 sebagai takluknya pasukan Belanda terhadap Jepang. Tentara Jepang begitu mudah masuk Indonesia selain karena rakyat yang telah terkondisikan dengan ramalan tersebut, mereka juga melakukan propaganda 3A ( Nippon pemimpin Asia, Nippon pemimpin Asia, dan Nippon cahaya Asia), Nippon saudara tua Indonesia, dan membebaskan Indonesia dari penjajahan. sehingga Jepang diterima begitu baik.

Apakah Jepang benar-benar di Indonsia selama seumur jagung (3,5 bulan) ? ternyata tidak, mereka menguasai Indonesia selama 3,5 tahun (1942-1945). Dalam kurun waktu 3,5 tahun menguasai Indonesia ternyata penderitaan luar biasa dialami rakyat melebihi apa yang dialami selama penjajahan Belanda. Jepang mengakhiri kekuasaannya setelah dijatuhkannya bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh tentara sekutu, yang mana berakibat lemahnya pemerintahan Jepang termasuk yang berkedudukan di Indonesia dan kesempatan tersebut dimanfaatkan Indonesia memerdekaan diri dari kaum penjajah. Setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945 barulah mengerti apa yang tersirat dalam ramalan Jayabaya berbeda dangan yang disebutkan. Maksud seumur jagung adalah umur biji jagung mulai keluar sampai tidak dapat dipakai biji lagi, yang mana prosesnya berlangsung kurang lebih 3,5 tahun.

Dalam bait serat Jokolodang yang lain disebutkan

………. Sangkalane maksih nunggal jamanipun

Neng sajroning madya akir

WIKU SAPTA NGESTHI RATU

Adil parimarmeng dasih……..

Terjemahannya kurang lebih “waktunya akan tiba dan didalam jaman yang sama, didalam pertengahan tahun, tahun Jawa 1877, akan ada keadilan”

Tahun Jawa 1877 bertepatan dengan 1945 masehi yang mana bangsa Indonesia mendapatkan kemerdekaan dari belenggu penjajahan.

Demikianlah ramalan-ramalan yang menjadi pedoman masyarakat Indonesia khususnya Jawa dimana dalam menafsirkan memerlukan perenungan yang mendalam, kalau tepat menafsirkannya akan berbuah manis sebaliknya kesalahan sedikit saja akan menjadi bumerang.

Madzhab Al-Awza’i : Madzhab dalam Islam yang hilang

Dalam Islam dikenal empat madzhab yaitu Maliki, Hambali, Hanafi, dan Syafi’i. Namun sebenarnya dalam sejarah perkembangan Islam ada satu lagi Madzhab yaitu Awza’i. Madzhab ini didirikan seorang ulama bernama Abu Amr Abdurrahman bin al Awza’i atau lebih dikenal dengan Imam Awza’i. Beliau lahir di Ba’labakka tahun 88 H atau 707 M dan meninggal di Beirut tahun 157 H atau 773 M.  Imam Awza’i dikenal kritis terhadap pemerintahan khalifah pada jamannya, tak jarang ia memberi peringatan bila bertentangan dengan hukum-hukum Islam. Dalam bidang hadits dan Fiqh ia dikenal mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam. Khusus dalam bidang fiqh ia mempunyai paham dan ajaran sendiri yang kemudian disebut dengan Madzhab Al-Awza’i. Madzhab terebut berkembang luas di Siria abad 2-4 H, dan juga merambah ke wilayah Andalusia Spanyol. Di Spanyol ia dikenal dengan sebutan “Aawzey” atau “Awzu”. Dua kitab yang menjadi karya besarnya adalah As-sunan (fiqh) dan Al-Masail.

Nama Imam Awza’i bisa disejajarkan dengan ulama-ulama pendiri empat madzhab lainnya. Namun pada perkembangannya Madzhab Al-Awza’i hilang seiring berkembangnya Madzhab Syafi’i di Siria dan Madzhab Maliki di Andalusia. Selain karena terdesak perkembangan madzhab-madzhab lain, Madzhab Al-Awza’i juga tidak mempunyai pengikut sehingga jarang dijadikan dasar-dasar pelaksanaan hukum-hukum fiqh, meskipun pendapat-pendapat Imam Awza’i masih sering dibahas dalam masalah khilafiyah.

Beberapa pendapat Imam Awza’i dalam bidang fiqh antara lain berwudlu memakai nabiz  (air nira, kurma dan anggur) dianggap sah. Air yang yang bercampur najis tetap dianggap suci selama tidak berubah warna, rasa dan baunya. Air sisa anjing dan babi boleh dipakai minum dan berwudlu demikian pula sisa makanannya halal dimakan. Seseorang yang dengan sengaja menggauli istrinya siang hari di bulan Ramadhan cukup membayar kafarat saja tanpa harus meng-qodlo’ sebaliknya bila dilakukan karena lupa cukup meng-qodlo’ tanpa harus membayar kafarat. Seseorang yang berkata dusta dan menggujingkan orang lain waktu siang hari maka puasanya dianggap batal.

Menurut Al Haifiz Az-Zhabi dalam kitabnya Duwadul Islam, dalam 70.000 fatwa Imam Awza’i dalam bidang keagamaan adalah jawaban atas permasalahan umat yang ditujukan padanya.

Columbus penemu benua Amerika (?)

Sejarah yang selama ini kita kenal adalah bahwa benua Amerika ditemukan Christoper Columbus tanggal 12 Oktober 1492 yang berlayar dari Spanyol dan mendarat di kepulauan Bahama. Columbus menyangka daerah yang tempat mendarat adalah India dan kemudian ia menyebut penduduk sekitar dengan sebutan Indian. Adakah pendatang-pendatang ke  benua ini sebelum Columbus ?

Pelayaran-pelayaran kaum muslimin

Cheng Ho

70 tahun sebelum Columbus datang ke benua Amerika ternyata Laksamana Cheng Ho (Zeng He) seorang pelaut dan penyebar Islam dari Dinasti Ming, telah datang lebih dulu. Hal ini diungkapkan Gavin Menzies, seorang ahli navigasi dan mantan komandan kapal selam angkatan laut Inggris pada sebuah seminar di London yang diadakan oleh Royal Geographical Society. Menzies mengungkapkan bahwa pelayaran Cheng Ho mencapai benua Amerika antara tahun 1421 dan 1423 dengan terlebih dahulu berlayar menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan Amerika Selatan. Menzies menyimpulkan hal tersebut setelah menganalisis  peta pelayaran astronomi Cheng Ho menggunakan Program Software Starry Night.

Laksamana Cheng Ho bukanlah pendatang pertama ke benua Amerika. Banyak literatur yang menyebutkan kaum muslimin telah datang ke benua Amerika sejak 5 abad sebelum Columbus. Pendapat yang popular dikemukakan Dr.Youssef Mrouch yang berjudul Pre-Columbian Muslims in America (1996). Ia mengemukakan “Sejumlah fakta menunjukkan bahwa muslim dari Spanyol dan Afrika barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya lima abad sebelum Columbus. Pada pertengahan abad ke 10 pada waktu pemerintahan Khalifah Umayyah yaitu Abdurrahman III (929-961 ), kaum muslimin yang berasal dari Afrika berlayar ke barat dari pelabuhan Delbra (Palos) di Spanyol, menembus ‘Samudra yang gelap dan berkabut’. Setelah menghilang beberapa lama, mereka kembali dengan sejumlah harta dari negeri yang ‘tak dikenal dan aneh’. Ada kaum muslimin yang bermukim di negeri baru itu dan mereka inilah kaum imigran muslim gelombang pertama di Amerika”

Pelayaran-pelayaran kaum muslimin yang  tercatat sebelum Columbus lainnya dilakukan pada jaman Sultan Abu Yacoub Sidi Youssef(1286-1307) penguasa keenam dinasti Marinid. Pelayaran jaman tersebut dipimpin Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al Mazandari. Kapalnya berangkat dari Tarfay di Maroko dan mendarat di pulau Green kepulauan Karibia tahun 1291. Menurut Dr.Youssef Mrouch catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi ilmuwan Islam.

Pelayaran menuju benua Amerika juga dilakukan kesultanan Mali yang dilakukan oleh Sultan Bakari I (1285-1312 M). Pelayaran Sultan Bakari I melintasi Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississipi antara tahun 1309-1312. Dua abad kemudian pelayaran Sultan Bakari I diabadikan dalam bentuk peta yang di buat tahun 1513 dan dipersembahkan kepada raja Ottoman, Sultan Selim I (1517 ). Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian, Amerika selatan bahkan benua Antartika dengan penggambaran pantai Brazil secara akurat.

Pelayaran Columbus

Columbus

Bagaimanakah dengan pelayaran Columbus? Ternyata dalam mengarungi samudra Atlantik sepanjang 2400 km dari Spanyol ke benua Amerika, Columbus berpedoman peta-peta yang digunakan pedagang-pedagang muslim dan buku yang berjudul Akhbar az-Zaman karya Abul Hassan  Al Mashudi. Al Mashudi adalah ahli geografi dan intelektual muslim yang hidup antara tahun 871 sampai dengan 971. Sedangkan buku Akhbar az-Zaman berisi sejarah  perdagangan ke Asia dan Afrika. Dalam tulisannya, Columbus menceritakan bahwa pada hari Senin tanggal 21 Oktober 1492 disaat berlayar dekat Gibara bagian tenggara pantai Kuba, ia menyaksikan masjid di atas puncak bukit yang indah. Reruntuhan beberapa masjid dan menaranya serta tulisan ayat Al Qur’an bisa dijumpai di tempat  seperti  Kuba, Mexico, Texas dan Nevada (Thacher,John Boyd; Christopher Columbus, New York 1950)

peta dunia al mashudi

Dan ternyata dalam pelayaran tersebut Columbus dibantu dua nahkoda muslim yang bernama Martin Alonso Pinzon yang menahkodai kapal Pinta dan Vicente Yanez Pizon yang menahkodai kapal Nina. Keduanya mempunyai ikatan keluarga dengan Abuzayan Muhammad III(1362-1366) seorang sultan Maroko dari dinasti Marinid.

Martin Alonso Pinzon

Jejak-jejak peninggalan Islam di benua Amerika

Dr.Barry Fell dari Harvard University mengungkapkan bahwa fakta-fakta ilmiah telah menunjukkan bahwa berabad-abad sebelum Columbus, telah bermukim umat muslim dari Afrika utara dan barat. Ia mendapatkan adanya sekolah-sekolah Islam di Valley of fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe, Hickison Summit Pass (Nevada), Mesa Verde (Colorado), Mimbres Valey (New Mexico), dan Tipper Canoe (Indiana) antara tahun 700-800 (Fell, Barry : Saga America, New York, 1980 dan GYR, DONALD : Exploring Rock Art, Santa Barbara, 1989).

Nama-nama wilayah di benua Amerika banyak sekali menggunakan akar kata yang berasal dari bahasa arab. Di bagian tengah Amerika dari selatan hingga Illionis terdapat nama kota seperti Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Di Negara bagian Washington ada nama kota Salem. Di Karibia ada Jamaika dan Kuba (berasal dari kata Quba) serta Grenadam, Barbados, Bahama, dan Nassau. Di Amerika Selatan terdapat nama-nama kota seperti Cordoba, Alcantara, dan Bahia.

Menurut Dr. Youssef Mrouch terdapat sekitar 565 (484 di Amerika Serikat dan 41 di Kanada) nama tempat di Amerika Utara baik nama Negara bagian, sungai, kota, danau, desa dan gunung yang diambil dari nama Islam ataupun dari akar kata bahasa arab. Bahkan menurutnya beberapa nama wilayah berasal dari nama kota-kota negara Islam seperti Mecca di Indiana, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, Medina dan Arva di Ontario Kanada, Medina di Texas, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Mahomet di Illionis, dan Mona di Utah. Menurut Dr A.Zahoor negara bagian Alabama berasal dari kata Allah-bamya, juga Arkansas berasala dari kata Arkan-Sah dan juga Tennese dari kata Tanasuh. Ini adalah bukti-bukti Islam telah eksis di Benua Amerika sebelum Columbus datang.

Pendaratan Columbus

Di kepulauan Bahama tempat Columbus mendarat, terdapat pulau yang bernama Guanahani. Nama tersebut bersala dari bahasa Mandika yang merupakan turunan dari bahasa arab. Guana berasal dari kata Ikhwana yang berarti saudara. Nama Guana sendiri sampai sekarang masih banyak dijumpai di benua Amerika. Guanahani berarti tempat keluarga Hani bersaudara. Columbus kemudian menduduki pulau tersebut dan mengganti namanya dengan sebutan San Salvador.

Situs bersejarah Sendang Beji

Situs bersejarah yang berada di Desa Karang Patihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo menjadi salah satu bukti bahwa Ponorogo menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Jawa kuno. Situs tersebut biasa disebut dengan Sendang Beji. Situs tersebut terdiri dari sebuah kolam. Di sekeliling kolam tersebut terdapat  3 buah arca, 2 arca berbentuk manusia dan 1 arca lagi berbentuk seperti bangunan rumah kecil.  Sebagaimana yang dimuat di www.antaranews.com tanggal  25 Pebruari 2011, Situs ini diperkirakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-10 masehi atau pada era Mpu Sendok di Jawa Timur. Dua situs berbentuk patung prajurit yang ditemukan di dekat patirtan diidentifikasi sebagai arca Gupala dan arca Agesti. Dugaan itu didasari pada karakteristik kendi kamandalu yang berada dalam pegangan tangan kiri arca. Kemungkinan tempat ini dulu digunakan untuk ritual atau beribadah, hal itu berdasarkan adanya arca Agesti yang merupakan penjelmaan Dewa Siwa. Tahun pembuatan dari arca-arca tersebut pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3)Trowulan mengaku belum bisa memastikan. Hal itu dikarenakan pihaknya sama sekali tidak menemukan adanya tulisan yang menunjuk pada tahun pembangunan situs bersejarah tersebut.

BP3 Trowulan juga  menjelaskan, gorong-gorong yang terbuat dari batu bata di dekat patirtan berfungsi mengalirkan air yang berasal dari mata air menuju kolam.  Keberadaan gorong-gorong itu dimaksudkan untuk mengalirkan air dari mata air ke kolam yang jaraknya cukup jauh.  

Info yang kami dapatkan dari salah seorang warga, dulunya ada 6 arca. Di sendang tersebut mengalir air dari pegunungan dan memancar lewat patung yang berada di tengah sendang. Demikian pula mengenai jaman pembuatan situs ini, beberapa pihak ada yang menyatakan situs ini dibuat pada jaman kerajaan Kediri era Prabu Jayabaya ataupun Prabu Angling Darmo.

Dari Gelap menuju Cahaya : pemikiran-pemikiran Kartini

Sejarah Indonesia mencatat Kartini sebagai pahlawan Nasional atas pengabdiannya dalam memajukan peran wanita atau dengan kata lain memperjuangkan emansipasi. Namun sebenarnya dalam proses perjuangannya Kartini mengalami banyak sekali pertentangan dalam pikirannya. Kartini mengalami fase-fase dalam hidupnya dalam rangka mencari bagaimana tipe seorang wanita yang tepat dalam perjuangan bangsa ini.

Pendidikan Kartini hanya sampai sekolah dasar atau lebih dikenal dengan ELS (Europese Lagere School). Pengetahuan yang diperoleh Kartini antara lain kemampuan ber bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Dengan kemampuannya tersebut, ia banyak menulis surat kepada beberapa orang Belanda yang berisi curahan hati tentang masalah yang ia hadapi.

Adat keningratan Jawa

Kartini mulai merasakan adat istiadat jawa yang peraturannya begitu ketat hingga dalam timbul dalam pikirannya untuk menentangnya sebagaimana bait-bait yang ia tulis berikut ini :

Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit, adikku harus merangkak bila hendak berlalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku berlalu , haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh ber-kamu dan ber-engkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dengan bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah selalu diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk, bila kita berada dalam lingkungan keluarga Bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya harus perlahan-lahan, sehingga hanya orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendegarnya. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat dicaci orang disebut kuda liar (surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Pemikiran Kartini tersebut terinspirasi dari semboyan Revolusi Perancis yaitu Liberte Egalite Fraternite (kemerdekaan persamaan persaudaraan). Menurutnya setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama tidak peduli bangsawan ataupun rakyat jelata. Ia berusaha merubah cara pandang adat jawa tersebut dengan memulainya bersama saudara-saudara terdekatnya seperti pada surat kepada Stella (18 Agustus 1899) berikut ini:

Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu. Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan.

Pendapat Kartini tentang keningratan yang begitu obyektif juga muncul dalam cuplikan suratnya kepada Stella berikut ini

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graff atau Baron? Tidak dapat dimengerti oleh pikiranku yang picik ini. (18 Agustus 1899)

Pengaruh Barat

Selain lontaran kritik terhadap adat kebangsawanan yang begitu mengekang, Kartini juga melihat adanya diskrimininasi pemerintah penjajah Belanda terhadap Bumiputera

Bolehlah negeri Belanda merasa berbahagia memiliki tenaga-tenaga ahli yang amat bersungguh-sungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memiliki buku selain buku pelajaran (surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902)

Imej yang berlaku pada saat itu adalah segala sesuatu yang berbau Belanda (eropa) dinggap lebih baik dari budaya dan pemikiran lokal, seperti surat Kartini berikut :

Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik : orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang eropa.(surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899)

Kartini pun mempunyai keinginan belajar ke Belanda agar kelak menjadi bekal baginya meningkatkan harkat dan martabat orang Jawa dengan meningkat tingkat pendidikan rakyat.

Aku ingin melanjutkan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih (surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900)

Namun sayang niat baik Kartini menimba ilmu di negeri Belanda tidak kesampaian. Adalah Mr.J.H Abendanon yang paling gigih menghalangi niat baik Kartini tersebut. Keinginan Abendanon tersebut bukannya tanpa alasan, atas nasihat dari Snouck Hurgronje, seorang arsitek yang merancang kemenangan Belanda dalam perang Aceh. Hurgronje berpandangan bahwa kekuatan yang paling gigih menentang penjajahan Belanda adalah Islam terutama golongan santrinya, maka harus diadakan westernisasi untuk membendung pemikiran Islam. Dan yang menjadi sasaran westernisasi tersebut adalah kaum bangsawannya. Kartini adalah bagian dari kaum bangsawan yang mempunyai pemikiran menentang penjajahan, dengan kepergian Kartini ke Belanda, niat tersebut akan tertunda. Dengan bantuan Annie Glaser, guru Bahasa Perancis Kartini yang mengerti secara psikologis pemikiran Kartini, Abendanon berhasil membujuk Kartini agar tidak jadi berangkat ke Belanda. Kartini dalam memandang positif peradaban Barat dalam hal ilmu pengetahuan, namun disatu sisi ia memandang banyak budaya barat yang merusak mental dan spiritual masyarakat Jawa sebagaimana suratnya berikut ini :

Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban ?    (Surat Kartini kepada Ny.EE.Abendanon, 27 Oktober 1902)

Kritik pedas pun kerap kali ia lontarkan kepada pemerintah kolonial Belanda, salah satu kritikannya dilontarkan kepada Departemen Kesehatan dalam bentuk nota :

Para dokter hendaklah juga diberi juga kesempatan  untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat menyolok terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan rakyat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab. Jikalau seorang awam menceritakan bahwa darah cacing atau belut dapat menyembuhkan mata yang bengkak, mungkin ia akan ditertawakan. Namun adalah suatu kenyataan bahwa air kelapa dan pisang batu dapat dipakai sebagai obat. Soalnya sebetulnya sangat sederhana : penyakit-penyakit dalam negeri sebaiknya diobati dengan obat-obatan dari negeri itu sendiri. Telah seringkali terjadi bahwa orang-orang sakit bangsa Eropa, teristimewa yang menderita penyakit Desentri atau penyakit tropis lain, yang oleh dokter-dokter sudah dinyatakan tidak dapat disembuhkan, masih dapat ditolong oleh obat-obatan kita yang sederhana dan tidak membahayakan. Sebagai contoh belum lama berselang, seorang gadis pribumi oleh seorang dokter dinyatakan menderita penyakit TBC kerongkongan. Dokter itu meramalkan bahwa anak itu paling lama dapat bertahan dua pecan dan akan meninggal dalam keadaan yang mengerikan. Dalam keadaan putus asa ibunya membawanya kembali ke desanya untuk diobati di sana. Dan gadis itu sembuh, menjadi sehat, tidak merasa sakit lagi dapat bicara kembali. Apa obatnya Serangga-serangga kecil yang didapat di sawah, ditelan hidup-hidup dengan pisang Emas. Pengobatan yang biadab? Apa boleh buat. Bagaimanapun obat itu menolong sedang obat dokter tidak.

Dokter-dokter kita sebetulnya dapat juga mengumumkan kasus-kasus seperti itu. Tetapi mereka tidak pernah melakukan demikian. Mungkin karena akan ditertawakan oleh para sarjana ? Seorang dokter bangsa bumiputera yang pengetahuannya setaraf dengan rekannya bangsa Eropa, jika yakin akan sesuatu, mestinya harus berani menyatakan dan mempertahankan keyakinannya.

Sungguh sebuah kritik yang berani disaat bangsa kita pada waktu itu terbelenggu penjajah. Selain itu pemikiran yang luar biasa, bagaimana Kartini melihat potensi muatan lokal dari bangsanya sendiri yang sangat luar biasa  di tengah superioritas pengaruh barat yang dianggap sebagai kiblat ilmu pengetahuan.

Islam

Kartini mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan ketika suatu hari guru mengajinya menyuruhnya keluar ketika ia menanyakan arti dan makna dari Al Qur’an yang ia baca. Sejak itu timbul pertanyaan dalam dirinya, mengapa hal itu terjadi ?

Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Disini orang diajar membaca Al Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajar aku membaca buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukanlah begitu Stella?        (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1890)

Sungguh sebuah pemikiran yang luar biasa dari Kartini, begitu kritis pemikirannya. Jiwa berontak terhadap sesuatu yang ia anggap tidak logis. Keinginannya mendalami Islam sangat kuat. Dan pada akhirnya Kartini melakukan aksi mogok tidak mau mengaji Al Qur’an sebagai protes atas keadaan yang ia alami dan juga umat Islam pada waktu itu.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al Qur’an, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahas asing yang tidak aku mengerti artinya. Dan jangan-jangan ustadz dan ustadzahku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya (Surat Kartini kepada E.E Abendanon, 15 Agustus 1902)

Kegundahan Kartini akhirnya berakhir setelah pertemuannya dengan KH. Muhammad Sholeh bin Umar atau lebih dikenal dengan Kyai Sholeh Darat, seorang ulama dari Darat Semarang. Kartini menceritakan pengalamannya, sang kyai pun meresponnya dengan baik dan berjanji akan menterjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa. Pada saat pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat memberi kado berupa terjemahan Al Qur’an sampai dengan 13 Juz berbahasa Jawa. Maka Kartini pun antusias mempelajari Islam. Namun sayang terjemahan karya sang kyai belum selesai sang kyai wafat. Setelah mengenal Islam lebih mendalam, Kartini pun ingin menjadi seorang muslimah yang taat kepada perintah agama

Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi yaitu hamba Allah (Abdullah)   (Surat Kartinii kepada Ny. EE.Abendanon 1 Agustus 1903)

Dari gelap menuju cahaya

Kumpulan surat-surat Kartini kepada beberapa tokoh Belanda dikumpulkan Mr. Abendanon. Kumpulan surat-surat tersebut diberi judul dalam bahasa Belanda Door Duisternis Tot Licht. Selama ini kita mengenal dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia “Habis gelap terbitlah terang”. Kumpulan surat-surat Kartini tersebut karena banyak surat sebelum ia meninggal banyak mengulang kata  Door Duisternis Tot Licht. Tetapi apakah makna dibalik kalimat berbahasa Belanda tersebut ?. Prof Dr. Haryati Soebadio (menteri Sosial era Orde Baru) yang tidak lain cucu tiri RA.Kartini lebih mengartikan Door Duisternis Tot Licht dengan Dari Gelap menuju cahaya. Kartini terinspirasi dari penggalan ayat 257 surat Al-Baqarah Minazh-Zhulumaati Ilan-nur (Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya). Kartini telah melampaui fase dalam kehidupan mulai dari sebuah kungkungan adat yang membuat dirinya tidak berkembang lalu berkenalan dengan dunia barat yang mempunyai pengaruh positif dalam bidang ilmu pengetahuan serta pengaruh negatif dalam hal moral dan tingkah laku. Demikian pula pencariannya terhadap Islam dan menemukan Islam sebagai agama yang membawa kebahagiaan. Bagaimana emansipasi menurut Kartini ?

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama  (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan nyonya,  4 Oktober 1902)

Petualangan Che Guevara

Rakyat Amerika Latin tidak asing lagi dengan tokoh yang satu ini, dialah Ernesto Che Guevara yang kiprahnya di era 1950-1960 an  begitu menggemparkan. Dia salah satu tokoh yang bisa disejajarkan dengan Saddam Husein, Muamar Khadafi, Usamah Bin Laden, Fidel Castro dan juga Soekarno, sebagai barisan orang-orang yang dianggap menghalangi kepentingan politik maupun ekonomi negara-negara kapitalis khususnya Amerika Serikat.

Guevara lahir pada tanggal 14 Mei 1928 di Rosario Argentina dengan nama lengkap Ernesto Guevara De La Serna. Sejak kecil ia rajin membaca literatur tentang Karl Marx, Engels dan Sigmund Freud yang ada di perpustakaan ayahnya. Di rumahnya,  Guevara tergerak hatinya oleh para pengungsi perang saudara Spanyol, juga oleh rentetan krisis politik yang parah di Argentina di bawah pemerintahan diktator  Juan Peron. Dari situlah  muncul kebenciannya terhadap kaum kapitalis khususnya Amerika Serikat. Tahun 1947 ia mulai kuliah di jurusan Kedokteran Universitas Boines Aires.

Pada tahun 1949 di sela-sela masa kuliahnya, ia memulai perjalanan  menjelajahi benua Amerika dengan bersepeda motor. Itulah untuk pertama kalinya ia melihat  kemiskinan dan penderitaan suku Indian. Selanjutnya pada tahun 1951 setelah menempuh ujian pertengahan semester Guevara mengadakan perjalanan yang lebih panjang didampingi dengan seorang temannya Alberto Granado berkeliling  di berbagai wilayah Amerika Selatan. Dalam perjalanannya ia menjumpai banyak perusahaan-perusahaan Amerika menguasai perekonomian Amerika Latin yang mana berdampak pada kemiskinan rakyatnya. Pada tahun 1952 ketika perjalanannya sampai di Lima Peru, ia bertemu dengan Dr.Hugo Pesce seorang dokter spesialis kusta. Pertemuan dengan sang dokter membawa pengaruh yang besar terhadap diri Guevara tentang marxisme, kemiskinan dan penderitaan akibat penyakit kusta. Tahun 1953 ia menamatkan pendidikan kedokterannya. Setelah lulus, ia kembali melanjutkan perjalanannya. Bulan Desember 1953 ia sampai diGuatemala, yang dipimpin Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang berhaluan sosialis. Guevara sempat diberi tawaran bergabung dengan partai Komunis setempat, namun ia menolaknya. Di Guatemala inilah ia bertemu dengan Hilda Gadea, seorang keturunan Indian dari Peru yang kemudian dinikahinya.

Setelah terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Carlos Castillo Armas yang didukung Amerika Serikat, Guevara dan Hilda pergi meninggalkan Guatemala dan tiba di Meksiko tanggal 21 September 1954. Hilda yang memperkenalkan Guevara dengan Fidel Castro. Sejak itu ia dan Fidel Castro sepakat mengadakan serangan ke Kuba yang pada saat itu dibawah kekuasaan rezim diktator Fulgencio Batista yang pro Amerika Serikat

Maka mulailah mereka melakukan latihan kemiliteran di sebuah perkebunan di Chalco, Meksiko. Mereka dilatih mantan kapten tentara Republik Spanyol Alberto Bayo. Bayo tidak hanya mengajarkan pengalaman pribadinya tetapi juga ajaran Mao Ze Dong. Di sinilah Guevara mendapat julukan “Che” (dalam bahasa Italia berarti teman sekamar dan teman dekat) .

Setelah siap maka dimulailah penyerangan Che Guevara, Fidel Castro dan pasukannya bulan November 1956 menggunakan kapal motor. Namun naas penyerbuan mereka sudah diketahui pasukan Batista, begitu tiba di pantai Kuba langsung mendapat serangan dari pasukan Batista sehingga hanya tersisa 18 orang pasukan yang hidup dari total 82 anggota pasukan. Tahun 1957 kembali dilakukan penyerbuan namun masih gagal. Bulan Agustus 1958 ia memimpin invasi pasukan dari Sierra Maestra Menuju propinsi Las Villas di Kuba Tengah. Pada bulan Oktober 1958, tentara pemberontak yang dipimpin Guevara tiba di Pegunungan Escambray. pada tanggal 28 Desember 1958 menargetkan Santa Clara, ibukotaLas Villas Pada akhirnya pemerintahan diktator pimpinan Batista berhasil ditumbangkan Januari 1959.

Langkah Fidel Castro dan Guevara selanjutnya adalah membubarkan seluruh kekuatan militer Batista dan menggantinya dari unsur rakyat Kuba. Atas konstribusinya dalam pembebasan Kuba, pada tanggal 9 Februari 1959 Guevara ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian  dan Presiden Bank Nasional Kuba Langkah berikutnya  Che memimpin “Instituto Nacional de la forma Agraria”, yang menyusun reformasi agraria yang isinya menyita tanah-tanah milik kaum feodal (tuan tanah) dan perbaikan nasib buruh seperti pengurangan biaya sewa tanah dan menaikkan upah buruh. Tahun 1960 Kuba mulai menerapkan ekonomi terencana yag antara lain dengan mengambilalihan modal asing.

Che Guevara bergerilya di KongoTahun 1965 Che Guevara mengundurkan diri dari jabatan Menteri Perindustrian Kuba. Selanjutnya ia kembali pada cita-cita mengobarkan semangat revolusi melawan imperialisme dan kapitalisme. Pada tahun itu juga ia ke Kongo bersama beberapa sukarelawan Kuba untuk membantu Laurent Kabila pimpinan pemberontak untuk melawan pemerintahan boneka Joseph Mobutu. Namun karena terlalu kuatnya kekuatan Mobutu yang didukung Amerika Serikat dan juga kurangnya koordinasi dengan gerilyawan Kongo serta kurang memahami kultur dan keadaaan rakyat, Che Guevara gagal dalam usahanya membantu pemberontakan Kongo. Ia pun meninggalkan Kongo 22 Nopember 1965.

Setelah meninggalkan Kongo pada bulan November 1965, Guevara pergi untuk bergabung dan membantu para gerilyawan di Bolivia. Pada saat itu Bolivia dipimpin diktator militer Rene Barrietos yang pro Amerika Serikat. Che datang bersama sekitar 40 orang gerilyawan asal Kuba dan memilih wilayah Nancahuaza sebagai markas gerilyanya. Sepetinya Che tidak belajar dari kegagalannya bergerilya di Kongo, kondisi wilayah Nancahuaza tidak memadai sebagai markas gerilya, mempunyai jurang yang dalam dan sulit memperoleh bahan makanan. Demikian pula penduduk setempat yang sebagian petani kurang merespon gerakan yang dilakukan Che. Situasi yang serba sulit menyebabkan banyak gerilyawan yang membelot. Sementara tentara Bolivia semakin intensif melakukan serangan. Hari-hari terakhir gerilya keadaan Che sangat memilukan, ia sakit dan kekurangan makan hingga harus digendong para buruh tambang Bolivia. Che Guevara ditangkap pada 8 Oktober 1967 di desa La Higuera. Akhirnya ia dieksekusi mati tentara Bolivia dan meninggal pada usia 39 tahun.

Demikianlah  tulisan singkat tentang petualangan Ernesto Che Guevara dalam memperjuangkan sebuah ideologi yang ia yakini kebenarannya meski harus meninggalkan jabatan, hidup menderita, dan mengalami kematian yang tragis.

Arca Dwarapala pintu gerbang kerajaan Singosari

Dwarapala adalah patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Budha, berbentuk manusia atau monster. Biasanya dwarapala diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain untuk melindungi tempat suci atau tempat keramat didalamnya. Di Desa Candirenggo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang terdapat 2 arca Dwarapala yang tingginya sekitar 3,5 M, terletak di pinggir jalan dan saling berhadapan.

 

Dua arca tersebut tepatnya di sebelah barat kompleks Candi Singosari. Dua arca tersebut diperkirakan merupakan pintu gerbang kerajaan Singosari.