Anti imperialis sebuah pemikiran dan sikap Soekarno

Selain dikenal seorang pemimpin yang menghendaki bersatunya semua komponen bangsa, Ir. Soekarno juga dikenal memiliki pemikiran yang anti terhadap penjajahan atau imperialis. Hal tersebut tidak saja ditunjukkan sebelum kemerdekaan, bahkan selama beliau memimpin pemerintahan pemikiran tersebut begitu terasa dalam keputusan dan kebijakannya.

 Pembebasan Irian Barat

Dalam Konfrensi Meja Bundar yang diadakan tanggal 27 Desember 1949, salah satu poin yang disetujui adalah Serah terima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia, kecuali Papua Bagian Barat.Indonesiaingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi daerahIndonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan Papua bagian barat negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Karena itu pasal 2 menyebutkan bahwa Papua bagian barat bukan bagian dari serah terima, dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun setelah perjanjian. Namun pada kenyataannya setelah satu tahun yaitu tanggal 27 Desember 1950, Belanda mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Pembebasan Irian barat dijadikan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Soekarno setelah sepuluh tahun Indonesia merdeka, program itu disebut Pancadarma yaitu:

1.  Kembali kepada persatuan

2.  Memberantas pengacauan

3. Memperhebat pembangunan

4. Memperhebat perjuangan Irian Barat dan antikolonialis-imperialis

5. Menyelenggarakan pemilihan umum

 Sebagai langkah pembebasan Irian Barat berikutnya adalah dikeluarkannya perintah yang disebut dengan Tri Komando Rakyat (TRIKORA). Isi Trikora di keluarkan Presiden Soekarno tanggal 19 Desember 1961 sebagai berikut:

 1. Pancangkan Sang Saka Merah Putih di Irian Barat.

 2. Gagalkan Negara Boneka Papua Barat bentukan Belanda.

 3. Adakan mobilisasi umum.

Presiden Soekarno kemudian membentuk Komando Mandala dengan Mayjen Soeharto sebagai komandannya. Operasi militer pun digelar, namun kurang terkoordinasi antar kesatuan dan berjalan sendiri-sendiri. Dalam operasi militer tersebut gugur Komodor Yos Sudarso pada pertempuran Laut Aru tanggal 15 Januari 1962, bersama KRI Macan Tutul yang di komandoinya tenggelam terkena serangan pesawat tempur Belanda.

Operasi militer yang lebih terpadu akhirnya dilakukan, pengiriman pasukan dilakukan lewat penerjunan yang disertai dengan operasi amphibi.

Konflik antara Indonesia dan Belanda akhirnya berakhir setelah tercapainya Perjanjian New York  tanggal 15 Agustus 1962. Indonesia resmi mengambil alih kekuasaan di Irian Barat tanggal 1 Mei 1963. Pembebasan Irian Barat merupakan salah satu bagian pendirian dari Presiden Soekarno yang anti imperialis.

Demikian pula mengenai Timor timur yang pada waktu itu dijajah Portugis, ada keinginan dan cita-cita beliau untuk membebaskan dan memasukkan wilayah tersebut ke Indonesia, sebagaimana beliau sampaikan pada ceramah Universitas Gajah Mada Yogyakarta tanggal 18 Desember 1961, berikut ini :

“……. Nah Pulau Timor, Pulau Timor. Tadi pagi pada waktu saya membuka, meresmikan Subcritical Atomic Reactor ada seorang gadis cantik pakaian Timor. Saudara dari mana ? Betul-betul dari Timor, Pak. Timor bagian sini. Timor bagian sana yang diduduki Portugal itukan ya satu ras dengan Timor bagian sini ? Kalau Negara bangsanya harus satu kulit, satu warna kulit, dus sebenarnya tidak ada keberatan kalau Timor, Timor Portugal juga masuk Republik Indonesia. Tapi keadaan tidak demikian Saudara-saudara. Kita hanya hendak membebaskan, memerdekakan tanah air kita yang dulu bernama Nederlans-Indie………”

(sumber : SOEKARNO, Warisilah api sumpah pemuda : kumpulan pidato Bung Karno di hadapan pemuda tahun 1961-1964)

Dari pidato di atas sebenarnya telah ada wacana dari Soekarno membebaskan Timor Timur dari belenggu imperialis, yang mana benar-benar masuk NKRI tahun 1977 dan kemudian menjadi Negara yang berdiri sendiri tahun 1999 melalui jajak pendapat dan sekarang bernama Timor Leste. Terlepas dari pro dan kontranya, Timor Timur telah menjadi bagian sejarah republik ini.

 Konfrontasi dengan Malaysia

Rencana dibentuknya negara federasi Malaysia yaitu penggabungan empat Negara bagian di semenanjung Melayu yaitu persekutuan tanah Melayu, Serawak, Sabah, dan Singapura  yang diprakarsai  Inggris, dianggap merupakan penindasan rakyat Sabah dan Serawak yang ingin terbebas dari belenggu penjajah Inggris. Pembentukan federasi Malaysia tersebut dianggap merupakan rencana Inggris memperluas jajahannya yang tentunya mengancam kedaulatan Indonesia dan Negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Langkah diplomatis kemudian ditempuh Presiden Soekarno, beliau mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Teuku Abdul Rahman tanggal 31 Mei sampai dengan 1 Juni 1963 untuk membicarakan masalah tersebut. Namun pada tanggal 9 Juli 1963 menandatangani persetujuan rencana pembentukan FederasiMalaysiadengan pemerintah kerajaan Inggris di London. Persetujuan itu berisi  pembentukan Federasi Malaysiadilaksanakan tanggal 31 Agustus 1963. Disitulah keteganganIndonesiamulai terjadi. Gelombang demonstrasi terjadi di kedua negara, Di Jakarta demonstrasi diadakan di Kedutaan Besar Inggris dan Malaysia yang berujung pada pembakaran Kedutaan Besar Inggris. Di Kuala Lumpur juga terjadi demonstrasi di KBRI, yang mana antara lain dilakukan dengan merobek foto Bung Karno dan menginjak-injak lambang negara Garuda Pancasila. Maka tak ayal lagi konfrontasi dengan Malaysia atau yang dikenal dengan sebutan “Ganyang Malaysia” dimulai yang antara lain melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Kuala Lumpur tanggal 17 Agustus 1963.

Pada tanggal 3 Mei 1964 mengeluarkan kebijakan mengenai konfrontasi dengan Malaysia dengan mengelarkan Dwi Komando Rakyat atau lebih dikenal dengan sebutan DWIKORA yang berisi :

  • Perhebat Ketahanan revolusi
  • Bantu perjuangan revolusioner rakyat di Malaysia, Singapura, Sabah, Serawak dan Brunei untuk menggagalkan Negara  Boneka Malaysia

Langkah kongkrit dari DWIKORA adalah pembentukan Komando Gabungan pada tanggal 16 Mei 1964 yang disempurnakan menjadi Komando Mandala I dan II.

Selanjutnya upaya diplomatis dilakukan Presiden Soekarno melalui jalur PBB, dengan upaya mencegah Malaysia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Namun usaha itu gagal, Malaysiaberhasil menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, bahkan PBB mengakui terbentuknya mengakui terbentuknya FederasiMalaysia. Sebagai protes, Indonesia keluar dari keanggotannya di PBB tanggal 7 Januari 1965.

Tanggal 20 Januari 1965 presiden Soekarno mendirikan Konfrensi kekuatan baru (CONEFO) yaitu organisasi tandingan dan menyelenggarakan GANEFO yaitu penyelenggaraan event olah raga tandingan Olimpiade.Pertempuran antara pasukan Indonesia dan Malaysia juga sering terjadi. Konfrontasi dengan Malaysia berakhir tahun 1966.

Diplomasi Luar Negeri

 “…………Salam kemerdekaan dan salam revolusioner kepadamu, hai Saudara-saudara di Afrika! Salam hangat dan doa selamat kepada Kamerun, kepada Togo, kepada Federasi Mali, kepada Konggo, Kepada Somali, kepada Malagasi, kepada Pantai Gading! Dan saya yakin: tidak lama lagi pun kepada bangsa-bangsa Afrika yang lain, yang juga pasti menang, pasti menang dalam perjuangan kemerdekaannya. Dan saya yakin pula, bahwa seperti juga bangsa Indonesia, dengan keteguhan, dengan segala ketabahan hati, dengan segala kebulatan tekad untuk meneruskan perjuangan mati-matian, saudara-saudara kita di Afrika itu akhirnya akan dapat mematahkan segala rintangan, menghancurleburkan segala halangan, baik dari dalam maupun dari luar. Berjuanglah terus, hai Saudara-saudara di Afrika, kemenanganmu pasti akan datang! Kami di Indonesia sendiri masih mengalami berbagai kesulitan, tetapi secara sederhana kami bersedia memberi bantuan sedapat mungkin bilamana dibutuhkan. Saudara-saudara tidak berdiri sendiri dalam perjuangan Saudara-saudara menentang imperialisme dan kolonialisme! Kemenangan Saudara-saudara adalah kemenangan kami, kemenangan kami adalah kemenangan Saudara-saudara!…………..”

(sumber : Presiden Soekarno : Amanat Proklamasi III 1956-1960 )

Demikian sebagian dari amanat Presiden Soekarno pada HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1960 di Jakarta. Pidato beliau sangat jelas menggambarkan pemikiran beliau yang anti terhadap imperialisme dan kolonialisme dan dukungan kepada negara-negara yang masih terjajah. Presiden Soekarno membagi kekuatan dunia menjadi dua yaitu Emerging New Forces yaitu kekuatan dunia baru yang bangkit setelah penjajahan maupun negara yang berusaha lepas dari penjajahan. Kekuatan kedua adalah Old Establish Forces yaitu kekuatan yang telah lama menguasai dunia. Langkah yang dijalankan Presiden Soekarno pertama kali adalah mengadakan Konfrensi Asia Afrika yang diadakan di Bandung tanggal 18-24 April 1955. Konfrensi ini diprakarsai lima negara yaitu Indonesia, India, Pakistan, Burma (sekarang Myanmar), dan Sri Lanka. Sebanyak 29 negara mengirimkan delegasinya pada konfrensi itu. Dalam konfrensi itu dibahas antara lain menentang segala bentuk kolonialisme, menentang intervensi negara barat terhadap negara di Asia dan Afrika, menyelesaikan konflik antara Cina dan Amerika Serikat secara damai, dan bagi Indonesia tentunya menyuarakan keinginan agar Belanda segera menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia. Konfrensi itu menghasilkan Dasa Sila Bandung yang berisi :

  • Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta azas-azas yang termuat dalam Piagam PBB
  • Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
  • Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.
  • Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain.
  • Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian mahupun secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  • (a). Tidak menggunakan peraturan-peraturan dan pertahanan kolektif untuk bertindak  bagi kepentingan khusus dari salah   satu  negara-negara besar   (b).  Tidak melakukan campur tangan terhadap negara lain
  • Tidak melakukan tindakan ataupun ancaman agresi mahupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
  • Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, atau penyelesaian masalah hukum , ataupun lain-lain cara damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  • Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
  • Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

Sebagai implementasi dari Konfrensi Asia Afrika, terbentuklah Gerakan  Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non Blok pada tahun 1961. Gerakan Non Blok bertujuan men menjamin kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan dari negara-negara nonblok dan berjuang menentang imperialisme, kolonialisme, apartheid, zionisme, rasisme dan segala bentuk intervensi militer serta menentang bentuk blok politik dan militer. Sebagaimana diketahui kekuatan dunia waktu itu terbagi dua Blok besar yaitu Blok Barat yang dimotori Amerika Serikat dan Blok Timur yang dimotori Uni Sovyet.

Menentang segala bentuk imperialisme telah menyatu dalam pikiran dan tindakan Presiden Soekarno. Di hadapan negara-negara imperialis pun beliau terang- terangan menentangnya. Meski kadang dianggap sekuler dalam politik dalam negeri tetapi beliau dianggap pemimpin negara-negara muslim oleh pemimpin negara-negara arab, terutama kiprah beliau menentang penindasan Israel terhadap Palestina.