Asal usul Reyog, antara sejarah dan legenda
Kesenian Reyog yang sekarang berkembang hampir di seluruh penjuru Nusantara bahkan sampai ke luar negeri, ternyata mempunyai asal usul yang beraneka ragam. Apa sajakah??
Versi Bantarangin
Konon dahulu ada Kerajaan bantarangin yang terletak di Sebata (sekarang wilayah Desa Sumoroto Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo). Kerajaan itu dibawah kekuasaan raja yang bernama Kelana Sewandana. Prabu Kelana Sewandana adalah murid Ki Ajar lawu dari padepokan di lereng gunung Lawu. Ia berguru bersama Pujangga Anom (Bujangganong). Keduanya memiliki kesaktian yang seimbang, hanya saja Pujangga Anom berwajah buruk, sedangkan Kelana Sewandana sangat tampan dan rupawan. Setelah lulus dari padepokan Lawu, Kelana Sewandana mengangkat Pujangga Anom sebagai patih di Kerajaan Bantarangin. Pada suatu malam sang prabu bemimpi bertemu dengan seorang putri yang cantik jelita. Putri itu tak lain adalah Dewi Sanggalangit putri kerajaan Kediri. Keesokan harinya Prabu Kelana Sewandana memerintahkan Patih Pujangga Anom untuk menyampaikan lamarannya kepada sang putri. Beserta sejumlah prajurit Patih Pujangga Anom berangkat ke Kediri. Dalam perjalanan yaitu di perbatasan Bantarangin dengan Kediri, rombongan sang patih dihadang pasukan harimau yang dipimpin Singo Barong dan pasukan merak. Perangpun pecah antara kedua bala tentara. Karena kekuatan tidak seimbang, akhirnya patih Pujangga Anom beserta prajuritnya mundur dan kembali ke Bantaragin.
Sesampainya di Bantarangin, ia melaporkan kejadian yang dialaminya kepada Prabu Kelana Sewandana. Mendengar berita itu sang prabu marah. Ia akan berangkat memimpin prajuritnya sendiri ke Kediri dan memerintahkan patih Pujangga Anom untuk menyiapkan bala tentara yang lebih banyak dari sebelumnya. Kemudian bersama prajurit yang terdiri prajurit berkuda dan prajuit jalan kaki, rombongan prabu Kelana Sewandana berangkat ke Kediri. Seperti kebarangkatan pertama, sesampainya di perbatasan Bantarangin dan Kediri, bala tentara Bantarangin kembali dihadang pasukan Harimau dan Merak. Kemudian juga terjadi peperangan. Prabu Kelana Sewandana bertarung dengan Singo Barong yang didampingi raja merak yang berjalan maju dengan mengembangkan bulunya yang bewarna hijau berkilauan nan mempesona, jalannya tegak sehingga tampak angkuh dan angker. Sedangkan Singo Barong berjalan dengan gayanya yang malas, sambil mengibaskan kepalanya sehingga bulunya yang lebat terurai bekilau keemasan terkena sinar matahari. Patih Pujangga Anom khawatir Prabu kelana Sewandana terlena keindahan raja merak dan Singo Barong. Prabu Kelana Sewandanapun menangkap isyarat yang diberikan Pujangga Anom, kemudian maju menyerang musuhnya. Singo Barongpun memperlihatkan kehebatannya, sangat kuat dan lincah, demikian pula raja Merak menyerang bertubi-tubi dari atas. Prabu Kelana Sewandana kewalahan dan akhirnya memerintahkan bala tentarnya mundur.
Sesampainya di Bantarangin, Prabu Kelana Sewandana mencari jalan keluar agak bisa mengalahkan Singo Barong dan raja merak. Lalu ia bersemedi meminta bantuan guruya. Dalam semedinya, gurunya memberi petunjuk bahkan dalam menghadapi Singo Barong dan raja merak, harus menampilkan bunyi-bunyian yaitu tabuhan gamelan beserta penarinya. Dan orang-orang yang terlibat harus memakai topeng yang lucu, aneh sekaligus menakutkan. Dengan cara seperti itu Singo Barong dan raja merak akan terlena dan dapat dikalahkan. Selain itu untuk mengalahkan Singo Barong dan raja merak harus mencambuk mereka dengan Pecut Samandiman. Prabu Kelana Sewandana kembali bersemangat. Atas petunjuk sang Prabu, patih Pujangga Anom menyusun kekuatan dan strategi. Patih Pujangga Anom menggunakan topeng yang aneh, lucu dan menakutkan bersama dengan dua orang yang mengenakan pakaian badut dan bertopeng yang menari-nari di depan Singo Barong dan raja merak. Tentara yang berkuda ditugaskan menari-nari di atas kudanya masing-masing tidak jauh dari tempat itu. Sedangkan prajurit yang lain ditugaskan membunyikan gamelan yang terdiri dari : Kendhang,dhog-dhog, gong beri, bendhe, slompet dan disertai dengan senggakan atau suara yang riuh. Maka dalam peperangan itu Singo Barong dan raja merak terlena dan akhirnya bisa dilumpuhkan Prabu kelana Sewandana menggunakan Pecut Samandiman. Singo Barong dan raja merak memohon kepada Prabu Kelana Sewandana agar diampuni, mereka berjanji akan berbakti kepada sang Prabu dan membantu sang Prabu melamarkan Dewi Sanggalangit.
Selanjutnya mereka berangkat ke Kediri. Penduduk desa yang mereka lalui terheran-heran melihat ada pertunjukan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Posisi paling depan prajurit berkuda, dibelakangnya patih Pujangga Anom (Bujangganong) yang mengenakan topeng aneh dan menakutkan jalannya mundur menggoda Singo Barong dan raja merak. Raja merak duduk di atas kepala Singo Barong diiringi music gamelan yaitu terdiri dari : Kendhang,dhog-dhog, gong beri, bendhe, slompet. Iramanya rancak dan bersemangat. Prabu Kelana sewandana diiringi pasukan jalan kaki dan berkuda. Versi asal usul Reyog ini paling popular dalam masyarakat, cerita sendratari Reyog diberbagai festival juga berpatokan pada versi ini.
Versi Wengker
Raja Wengker yang bernama Wijaya terkenal sangat sakti. Ia pandai menghilang dan kebal terhadap senjata tajam. Konon Wijaya tidak beristri karena ilmu yang diperdalamnya mengharuskannya untuk tidak berhubungan intim dengan wanita. Sebagai gantinya ia memelihara gemblak yaitu anak laki-laki yang tampan. Kesenangannya memperdalam ilmu kesaktian menjadikan rakyatnya termasuk juga patihnya yang bernama Jayawinanga mengikuti jejak rajanya. Tradisi memelihara gemblak mengakibatkan petumbuhan penduduk Wengker sangat lambat yang mengakibatkan kekurangan prajurit untuk menghadapi serangan Kahuripan. Karena merasa khawatir terhadap kekurangan prajurit, raja Wijaya memutuskan akan menikah. Putri yang hendak dipersuntingnya adalah Dewi Kilisuci, putri prabu Airlangga dari Kahuripan. Maka diutuslah patih Jayawinanga berangkat ke Kahuripan untuk melamar Dewi Kilisuci. Patih Jayawinanga pergi ke kerajaan Buleleng (Bali) terlebih dahulu untuk minta bantuan bala tentara seandainya terjadi peperangan dengan Kahuripan.
Setelah tiba di Kahuripan, patih Jayawingana menyampaikan kepada prabu Airlangga maksud dan tujuannya untuk melamar Dewi Kilisuci untuk dipersunting raja Wijaya. Prabu Airlangga menerima lamaran raja Wijaya dengan syarat bisa membuatkan danau dan taman di puncak gunung Kamput. Prabu Airlangga sebenarnya tahu maksud lamaran raja Wijaya yaitu sebagai sarana menaklukkan Kahuripan.
Patih Jayawinanga kemudian menuju puncak gunung Kamput untuk membuat danau. Ia memerintahkan seorang prajurit untuk melaporkan kepada raja Wijaya mengenai lamarannya. Raja Wijaya sendiri sebenarnya bersembunyi di hutan, namun tiba-tiba diserang Prabu Kelana Sewandana (putra Prabu Airlangga) hingga menyebabkan kematiannya secara muksa (hilang beserta raganya).
Sementara itu pembuatan danau dan taman di puncak gunung Kamput bisa diselesaikan pataih Jayawinanga dalam waktu yang cepat. Tempat itu rencananya akan digunakan Dewi Kilisuci dan raja Wijaya sebagai tempat peristirahatan bila kelak menjadi suami istri. Kemudian patih Jayawinanga melaporkan hasil pekerjaannya kepada Prabu Airlangga. Setelah mendengar danau dan taman telah selesai dikerjakan, Dewi Kilisuci ingin melihatnya. Diwaktu menyaksikan danau dan taman tersebut, dia terpeleset ke danau. Melihat hal tersebut patih Jayawinanga menolongnya, tetapi setalah di danau para prajurit Kahuripan justru melemparinya dengan batu dan timbunan tanah, hingga danau tersebut rata dengan tanah dan patih Jayawinanga tewas di dalamnya. Arwah Patih Jayawinanga yang gentayangan dapat menembus bumi dan sewaktu-waktu dapat bertemu dengan arwah raja Wijaya. Keduanya menjadi siluman. Raja Wijaya berwujud makhluk berkepala Harimau besar (Singo Barong), berkerudung Merak, untuk menyatakan cintanya kepada Dewi Kilisuci. Itulah sebabnya Dewi Kilisuci digambarkan sebagai burung Merak yang ditaruh di atas kepala harimau.
Perwujudan kepala harimau tersebut sering menghalangi iring-iringan orang yang sedang melakukan lamaran kepada calon mempelai perempuan. Barongan pun ikut menari-nari dalam iring-iringan tersebut. Sementara patih Jayawinanga berubah menjadi Bujangganong yang bermuka merah dan punya sepasang mata yang melotot, hidung panjang, berkumis tebal dan lebar dan berambut gimbal. Dia selalu setia mendampingi Singo Barong.
Versi Kediri
Tersebutlah seorang putri Kediri bernama Dewi Kilisuci. Ia mempunyai seorang pujangga yang bernama Pujanggaleng. Pujanggaleng mempunyai dua anak yang bernama Pujangga Anom dan Pujangga Lelana. Kedua anak Pujanggaleng tersebut mempunyai kesaktian, Pujangga Anom mempunyai ilmu “Macan Putih” sedangkan Pujangga Lelana mempunyai ilmu “Belut Putih”. Kedua orang itu bertapa di hutan Ponorogo untuk mendapatkan ilmu-ilmu tersebut. Jadilah kedua orang tersebut sakti mandraguna dan mempunyai anak buah para Warok Ponorogo yang tidak terhitung jumlahnya.
Suatu hari Pujangga Anom memperistri Dewi Kilisuci, kemudian ia memerintahkan adiknya untuk menyampaikan lamarannya tersebut. Namun lamaran tersebut ditolak Dewi Kilisuci. Mendengar hal tersebut Pujangga Anom marah dan berubah wujud menjadi seekor Harimau putih. Ia beserta anak buahnya mengamuk di alun-alun Kediri. Prajurit Kediri kewalahan menghadapi para Warok. Melihat hal tersebut Dewi Kilisuci bisa menerima lamaran Pujangga Anom dengan syarat bisa mengalahkan Pujanggaleng, yang tak lain ayah Pujangga Anom sendiri.
Melihat seekor Harimau putih yang mengamuk di alun-alun Kediri, Pujanggaleng memegang kepala harimau tersebut dan berniat membunuhnya, namun dihalang-halangi Pujangga Lelana dan memberitahukan bahwa harimau putih tersebut adalah Pujangga Anom. Pujanggaleng marah karena Pujang Anom berani melawannya maka dikutuklah sang anak menjadi harimau putih untuk selamanya. Sedangkan Pujangga Lelana dikutuk menjadi Gendruwo (hantu) karena selalu menakut-nakuti rakyat.
Pujangga Anom tetap ingin memperistri Dewi Kilisuci meski berwujuh harimau putih. Dewi Kilisuci bersedia menjadi istrinya dengan syarat bisa membuat gua yang menghubungkan Kediri dan Ponorogo. Pujangga Anom menyanggupinya dan dan bisa mengerjakannya dalam waktu yang tidak lama. Setelah gua itu jadi, ia memperlihatkannya kepada dewi Kilisuci. Ketika memeriksa gua tersebut Dewi Kilisuci bunuh diri di dalamnya. Ia merasa malu, meskipun berparas cantik ia adalah seorang kedi (tidak menstruasi). Jadi ia tidak mungkin menerima lamaran Pujangga Anom.
Versi Surukubeng
Menurut versi ini kesenian reyog diciptakan oleh Demang Suryangalam dari Kutu (Surukubeng). Suryangalam menciptakannya sebagai sindiran terhadap Prabu Bhre Kertabumi atau Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Menurut pemikiran Suryangalam, Prabu Brawijaya V telah kehilangan nyali untuk memerintah kerajaan Majapahit karena tidak dapat memadamkan pembontakan dari kerajaan-kerajaan kecil yang ada di pulau Jawa dan sangat memanjakan permaisurinya seorang putri Cina.
Singo Barong menggambarkan Prabu Brawijaya V yang sedang berkuasa. Burung Merak menggambarkan putrid Cina permaisuri Prabu Brawijaya V. Oleh sebab itu Singo Barong yang sedang memanggul burung Merak dimaksudkan Prabu Brawijaya V sedang kasmaran kepada sang permaisurinya. Adapun Bujangganong merupakan pengejawantahan dari sang Bujangga (dalam ini Suryangalam yang melarikan diri dari istana). Penampilan Bujangganong yang pendek dan kecil menggambarkan rakyat kecil yang tidak mempuyai kekuasaan , sepasang mata yang melotot menggambarkan mampu melihat kenyataan, hidung panjang, kumis panjang, dan rambut panjang menggambarkan tokoh ini mampu berfikir panjang. Gerak tari Bujangganong yang kadang seperti mendekat kadang menjauh dengan Singo Barong, menggambarkan bahwa ia ingin mengatakan dengan jujur dan terus terang dan menggambarkan bahwa Suryangalam tidak ingin memberontak kepada Prabu Brawijaya V. Sepasang penari Jathilan yang ditarikan laki-laki mengenakan baju prajurit namun bertingkah laku seperti perempuan menggambarkan prajurit Majapahit telah kehilangan keberaniannya. Kadang Jathilan duduk di atas kepala Singo Barong menggambarkan kedisiplinan prajurit telah luntur dan raja tidak bisa berbuat apa-apa.
Bunyi gamelan yang riuh dan gegap gempita disertai teriakan atau senggakan untuk memberi semangat, dimaksudkan usaha Bujangganong mengajak rakyat agar mau melihat tingkah laku sang raja. Senggakan yang olok-olok dimaksudkan memperolok raja. Dalam Reyog versi Surukubeng ini tidak dikenal tokoh Kelana Sewandana.
Dari versi-versi di atas jelas terlihat bercampurnya faktor sejarah dan legenda yang berkembang di masyarakat. Tentang asal-usul yang sesungguhnya mungkin tidak akan pernah ketemu, seorang praktisi Reyog mempunyai argument sendiri-sendiri dalam membicarakan asal usul reyog ini.


We need google translator for us to appreciate our works.
By the way, keep writing Anton.